Pagi ini saya mengantar Cino ke Opa dan Omanya di Pitak. Semenjak mamanya bekerja, ia kami titipkan di rumah Opa Oma di Pitak. Biasanya kami mengantarnya pada pukul 07.00 lalu menjemputnya saat pulang sekolah. Seperti biasa, seperti pagi-pagi sebelumya, Oma Din dan Opa Roda (Romanus Dasur) sibuk dengan banyak hal. Mereka selalu bangun pagi sekali lalu mengurus kerjaan-kerjaan yang seperti tidak pernah ada habisnya. Kalau bangun kesiangan berarti mereka sedang sakit. Pagi ini, Oma Din terlihat sedang menyapu pekarangan rumah. Sementara Opa Roda sedang merawat sayur di kebun kecilnya. Melihat kami datang, mereka melepaskan kerjaannya dan menyambut cucu kecilnya dengan sukacita. Sudah sekitar lima tahun lebih Pa Roda pensiun. Ia menghabiskan masa pensiunnya dengan memelihara sayur dan beternak babi. Sayur-sayur itu untuk konsumsi rumah tangga, buah tangan bagi keluarga yang berkunjung, juga untuk dijual kepada tetangga maupun orang-orang di Facebook. Dulu, saat ia masih aktif sebaga...
* Hawa dingin menerobos ke sela-sela tenda darurat. Meski sudah mengenakan kain dan beberapa selimut, tetap saja ia berhasil menerobos masuk dan memaksa kami mempererat pelukan pada selimut. Waso selalu dingin seperti biasanya; seperti kemarin, dua hari lalu, minggu lalu, bulan lalu. Kali ini nuansa berbeda menjadikannya lebih beku dari hari-hari terdahulu. Ini malam ke tiga kami tidur dalam tenda, ditemani cahaya senter. Di tengah cuaca yang nyaris beku, tiap keluarga membangun kehangatan di balik tenda kecilnya masing-masing. Merajut kembali makna kebersamaan; yang telah sekian lama membelah dirinya entah karena tuntutan pekerjaan maupun oleh modernitas. Kini banyak orang hidup di tenda darurat yang dibangun secara swadaya. Rumah-rumah runtuh; ada yang terlihat tak runtuh namun sudah tak dapat ditempati lagi karena mengalami keretakan pada tiap sudutnya. Rumah tak lagi menjadi sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan. Ia kini menjelma menjadi sumber luka dan ketakutan. Tiap s...