Waktu terus bergulir. Tak terasa putra kami Cino kini berusia 19 bulan.
Kami bersyukur karena pada usia sekarang, ada begitu banyak perkembangan dan hal-hal baik yang sudah bisa ia lakukan. Semoga seiring waktu ia terus bertumbuh dan berkembang lebih baik.
Berbicara mengenai tumbuh kembang anak, menjadi orang tua membuat saya memiliki suatu ketakutan baru. Saya selalu takut ketika anak kami tidak kunjung mencapai suatu tahap perkembangan tertentu.
Pada malam menjelang tidur saya selalu merenungkan banyak hal. Terkait tumbuh kembang anak, akan ada banyak pertanyaan yang berputar di kepala: apakah anak kami sudah berkembang sesuai dengan perkembangan anak-anak seusianya?
Apakah ia sudah bisa melakukan hal-hal yang seyogyanya harus bisa dilakukan sesuai tingkatan usianya?
Kenapa anak kami tidak kunjung bisa berjalan padahal anak seusianya sudah bisa berjalan?, dan lain sebagainya.
Selalu ada kecemasan luar biasa di dalam diri, manakala pada usia tertentu masih ada hal yang belum bisa ia lakukan, semisal: merangkak, mengenal anggota tubuh, mengucapkan satu dua kata, dan lain sebagainya.
Kecemasan-kecemasan ini kian menguat ketika mendapati anak seusianya di medsos maupun di lingkungan sosial sudah bisa melakukan suatu hal tertentu. Betapa gundah gulananya batin ini.
Hal semacam ini juga akan kian diperparah dalam situasi percakapan ruang publik. Terkadang ada satu dua ucapan lepas orang yang begitu membekas dan amat mengganggu, terutama bila berkaitan dengan ucapan-ucapan yang membangun perbandingan.
"Hae, toe tara bae hopi ya? (Haahh, anakmu belum juga bisa merangkak?)"
"Ba'ang toe di bae tombo'y ko? (Masa anak ini belum juga bisa berbicara?)
"Deee, hi nana daku danong umur 11 bulan lako gi! (Duh, saat puteraku berusia 11 bulan ia sudah bisa berjalan!)"
Dan lain sebagainya.
Mulut-mulut kotor ini sungguh amat sangat mengganggu psikis. Semoga ia bisa menjadi pengingat: penting bagi kita untuk menjaga lisan karena satu ucapan sederhana punya dampak yang sangat besar bagi orang lain!
Ucapan-ucapan lepas semacam ini memberikan dampak psikis yang luar biasa bagi kami sebagai orang tua. Sudah ada begitu banyak tidur malam yang terlewatkan karena kecemasan-kecemasan yang memenuhi isi kepala.
Makin ke sini, kami berpikir terpaku pada apa yang orang ucapkan akan membuat kita kian stres. Kalau terus dipikirkan, nanti kita lelah sendiri.
Selain itu, harus dipahami bahwa setiap orang adalah pembelajar yang punya cara dan kecepatannya masing-maisng dalam mencapai sesuatu. Setiap anak punya cara dan kecepatannya masing-masing dalam bertumbuh dan berkembang!
Banyak ucapan lepas dan hal menyebalkan di luar diri yang tidak bisa kita kontrol. Karena itu yang perlu diperkuat ialah respon kita terhadap ucapan-ucapan tersebut. Kenapa harus terpengaruh oleh mulut-mulut nirempati yang isi kepalanya kosong?
Permenungan terkait hal tersebut di atas membuat kita tersadar: standarisasi serupa hadir dalam segala jenjang dan lingkup hidup manusia. Hal yang sama terjadi pada remaja maupun orang dewasa.
Suka tidak suka, kita hidup dalam suatu lingkungan yang membentuk semacam suatu barometer garis waktu sosial.
Perkembangan kita akan terbilang baik manakala capaian-capaian kita berada di sekitar area garis waktu sosial. Pada usia sekian kau harus sudah bisa melakukan hal A, pada usia sekian kau harus sudah selesai kuliah, pada usia sekian harus sudah menikah, pada usia sekian harus sudah punya rumah sendiri, dan lain sebagainya.
Pada kondisi tertentu barometer dan garis waktu sosial itu sesuatu yang baik. Barometer dan konsep garis waktu ialah sebuah alarm bagi kita. Dengan kehadirannya kita bisa membangun target capaian dalam hidup.
Namun pada kondisi lain, ia bisa menjadi racun yang membunuh tumbuh kembang kita. Mendapati diri bertumbuh dan berkembang secara berbeda (apalagi jika grafik kita lebih lambat) dari orang lain bisa membuat kita frustasi dan depresi. Hal ini bisa membuat kita menarik diri dari suatu komunitas sosial.
Terkait hal ini, saya punya waktu satu tahun menarik diri dari kumpul-kumpul keluarga karena pertanyaan kenapa resign? Lalu dua tahun juga untuk pertanyaan: kapan nikah? 🤣🤣. Curhat kole jadin ga.
Poin akhir yang mau saya tekankan ialah perlu disadari setiap anak, setiap orang, dan setiap kita punya garis waktunya masing-masing.
Karena itu berhentilah membandingkan segala proses kita dengan orang lain!
Yang kita lakukan hanyalah harus terus bergerak, tak peduli selambat apa!
Selamat natal 2025 dan tahun baru 2026.
Peliharalah kita mulut!
Mempeliharakanlah kita punya mulut.
Ruteng, 28 Oktober 2025.
Kami bersyukur karena pada usia sekarang, ada begitu banyak perkembangan dan hal-hal baik yang sudah bisa ia lakukan. Semoga seiring waktu ia terus bertumbuh dan berkembang lebih baik.
Berbicara mengenai tumbuh kembang anak, menjadi orang tua membuat saya memiliki suatu ketakutan baru. Saya selalu takut ketika anak kami tidak kunjung mencapai suatu tahap perkembangan tertentu.
Pada malam menjelang tidur saya selalu merenungkan banyak hal. Terkait tumbuh kembang anak, akan ada banyak pertanyaan yang berputar di kepala: apakah anak kami sudah berkembang sesuai dengan perkembangan anak-anak seusianya?
Apakah ia sudah bisa melakukan hal-hal yang seyogyanya harus bisa dilakukan sesuai tingkatan usianya?
Kenapa anak kami tidak kunjung bisa berjalan padahal anak seusianya sudah bisa berjalan?, dan lain sebagainya.
Selalu ada kecemasan luar biasa di dalam diri, manakala pada usia tertentu masih ada hal yang belum bisa ia lakukan, semisal: merangkak, mengenal anggota tubuh, mengucapkan satu dua kata, dan lain sebagainya.
Kecemasan-kecemasan ini kian menguat ketika mendapati anak seusianya di medsos maupun di lingkungan sosial sudah bisa melakukan suatu hal tertentu. Betapa gundah gulananya batin ini.
Hal semacam ini juga akan kian diperparah dalam situasi percakapan ruang publik. Terkadang ada satu dua ucapan lepas orang yang begitu membekas dan amat mengganggu, terutama bila berkaitan dengan ucapan-ucapan yang membangun perbandingan.
"Hae, toe tara bae hopi ya? (Haahh, anakmu belum juga bisa merangkak?)"
"Ba'ang toe di bae tombo'y ko? (Masa anak ini belum juga bisa berbicara?)
"Deee, hi nana daku danong umur 11 bulan lako gi! (Duh, saat puteraku berusia 11 bulan ia sudah bisa berjalan!)"
Dan lain sebagainya.
Mulut-mulut kotor ini sungguh amat sangat mengganggu psikis. Semoga ia bisa menjadi pengingat: penting bagi kita untuk menjaga lisan karena satu ucapan sederhana punya dampak yang sangat besar bagi orang lain!
Ucapan-ucapan lepas semacam ini memberikan dampak psikis yang luar biasa bagi kami sebagai orang tua. Sudah ada begitu banyak tidur malam yang terlewatkan karena kecemasan-kecemasan yang memenuhi isi kepala.
Makin ke sini, kami berpikir terpaku pada apa yang orang ucapkan akan membuat kita kian stres. Kalau terus dipikirkan, nanti kita lelah sendiri.
Selain itu, harus dipahami bahwa setiap orang adalah pembelajar yang punya cara dan kecepatannya masing-maisng dalam mencapai sesuatu. Setiap anak punya cara dan kecepatannya masing-masing dalam bertumbuh dan berkembang!
Banyak ucapan lepas dan hal menyebalkan di luar diri yang tidak bisa kita kontrol. Karena itu yang perlu diperkuat ialah respon kita terhadap ucapan-ucapan tersebut. Kenapa harus terpengaruh oleh mulut-mulut nirempati yang isi kepalanya kosong?
Permenungan terkait hal tersebut di atas membuat kita tersadar: standarisasi serupa hadir dalam segala jenjang dan lingkup hidup manusia. Hal yang sama terjadi pada remaja maupun orang dewasa.
Suka tidak suka, kita hidup dalam suatu lingkungan yang membentuk semacam suatu barometer garis waktu sosial.
Perkembangan kita akan terbilang baik manakala capaian-capaian kita berada di sekitar area garis waktu sosial. Pada usia sekian kau harus sudah bisa melakukan hal A, pada usia sekian kau harus sudah selesai kuliah, pada usia sekian harus sudah menikah, pada usia sekian harus sudah punya rumah sendiri, dan lain sebagainya.
Pada kondisi tertentu barometer dan garis waktu sosial itu sesuatu yang baik. Barometer dan konsep garis waktu ialah sebuah alarm bagi kita. Dengan kehadirannya kita bisa membangun target capaian dalam hidup.
Namun pada kondisi lain, ia bisa menjadi racun yang membunuh tumbuh kembang kita. Mendapati diri bertumbuh dan berkembang secara berbeda (apalagi jika grafik kita lebih lambat) dari orang lain bisa membuat kita frustasi dan depresi. Hal ini bisa membuat kita menarik diri dari suatu komunitas sosial.
Terkait hal ini, saya punya waktu satu tahun menarik diri dari kumpul-kumpul keluarga karena pertanyaan kenapa resign? Lalu dua tahun juga untuk pertanyaan: kapan nikah? 🤣🤣. Curhat kole jadin ga.
Poin akhir yang mau saya tekankan ialah perlu disadari setiap anak, setiap orang, dan setiap kita punya garis waktunya masing-masing.
Karena itu berhentilah membandingkan segala proses kita dengan orang lain!
Yang kita lakukan hanyalah harus terus bergerak, tak peduli selambat apa!
Selamat natal 2025 dan tahun baru 2026.
Peliharalah kita mulut!
Mempeliharakanlah kita punya mulut.
Ruteng, 28 Oktober 2025.

Komentar
Posting Komentar