*
Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari.
Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam".
Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores).
Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng.
Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu.
Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain akan kewalahan mendapatkan sumber penghasilan.
Pada banyak keluarga, termasuk keluarga kecil kami, dureng adalah masa-masa yang sangat sulit.
Roda ekonimi kian seret, pemasukan menipis, dan kalian tahu perut serta kebutuhan-kebutuhan lain tak peduli pada hujan.
Karena itu, menjadi orang Manggarai berarti harus pandai mengatur urusan dapur biar asap tetap mengepul di musim dureng.
Beberapa bulan sebelum musim dureng, stok beras dan kayu harus sudah siap biar tidak mati kelaparan. Hehehe..
**
Hari ini, jadwal les saya padat. Kegiatan pembelajaran tidak berjalan dengan efektif.
Hujan deras yang menghujam atap dan angin kencang yang menghantam pintu jendela membuat suara saya tidak dapat menjangkau setiap sudut kelas.
Lagi pula dengan cuaca yang begitu ekstrem, bagaimana anak-anak saya dapat berkonsentrasi. Karena itu, saya memberikan mereka catatan.
Mereka mencatat dengan tekun sambil sesekali mengencangkan tali pengikat bagian kepala jaket mereka dan menggosok-gosokan tangan biar tetap merasa hangat.
Saat jam pelajaran usai, saya tidak langsung pulang. Saya berteduh di pendopo sekolah selama beberapa waktu sembari menunggu hujan agak reda.
Setelah sekian lama, saya menyerah karena pada akhirnya saya tidak menemukan gejala intensitas hujan menurun.
Perjalanan pulang terasa seperti pertarungan yang sadis. Curah hujan yang begitu tinggi dan angin membuat saya kesulitan mengendarai sepeda motor. Saya berjalan oleng seprti orang mabuk berat.
Jalan berkabut dan kaca motor yang sudah buram membuat jarak pandang saya tidak begitu jauh. Saya bergerak lambat, Ruteng rasanya jauh sekali.
Di sepanjang jalan, ada begitu banyak dahan kayu yang patah. Ada juga beberapa pohon bambu yang tumbang. Pada beberapa area pinggir jalan juga terdapat tanah yang mulai longsor tipis-tipis.
Suhu nyaris beku membuat tangan saya kaku dan kesulitan menarik tali gas sepeda motor. Weong cengkali nai lako ho. Mori, co tara nggo'on keta pala kawe sewung tepo ho!? Hahahaha.
Sebelum masuk ke area Poka, ada pohon bambu yang tumbang dan menghalangi jalan. Beberapa kendaraan dari dua arah berlawanan, terutama mobil kesulitan melintasi jalan.
Di bawah hujaman hujan yang deras seorang pria terlihat sedang bertarung untuk memangkas batang bambu yang melintas dan menghalangi jalan.
Tentu kami sangat bersyukur dengan kehadiran orang seperti beliau. Semestinya, kami memberikannya sedikit uang sebagai bentuk terima kasih atas kebaikannya.
Namun karena hujan yang sangat lebat dan letak uang yang agak ribet dijangkau di dalam tas membuat saya lewat begitu saja. Ada perasaan bersalah yang begitu besar dalam rongga dada saya.
Di tengah hujan dan badai, pohon yang tumbang menjadi pintu rejeki bagi beberapa orang. Walaupun pada banyak kondisi mereka melakukannya dengan tulus tanpa mengharapkan uluran tangan para pengendara.
Di bawah guyuran hujan, ada banyak hal berputar di kepala.
Sepanjang perjalanan, saya melihat banyak petarung dan wajah-wajah lelah yang berteduh di depan kios. Ada begitu banyak wajah putus asa karena harapan yang tersapu hujan berkepanjangan.
Saya selalu ingin mengeluh, namun saya sadar di luar sana ada begitu banyak orang kurang beruntung yang belum mendapatkan pekerjaan -janji 19 juta lapangannya Gibran tidak kunjung kelihatan-.
Di luar sana, masih ada begitu banyak orang yang kehilangan fondasi ekonominya karena dirampas oleh dureng. Di luar sana ada banyak asap dapur yang tak lagi mengepul.
Di luar sana... Arghh, makin ke sini menjadi orang tua membuat saya melihat banyak peristiwa dalam banyak kacamata.
***
Tak terasa, saya sudah sampai di rumah. Rasanya mati mampus, sangat lapar, ngantuk, dan lowbat sekali.
Di pintu dapur, Mama Cino yang sedang menggendong Cino yang terlelap menyambut dengan penuh cinta.
Imusn o Mori, mut cengkali rasan. Pasti dalam hati ia berujar,"Dee Mori, ho cain rona momang ho ga". Encokkk.
Entah bagaimana, mereka membuat lelah saya hilang seketika.
Hujan dan lelah membuat kita mengerti kenapa rumah diciptakan.
Bukan rumah sebagai sebuah bangunan fisik yang saya maksudkan, tetapi perasaan nyaman karena ada orang-orang yang menanti kita pulang dan memeluk dengan penuh cinta.
Saya tahu, saya adalah satu dari sekian banyak orang beruntung!
Terima kasih Nene Jenggot!
Ruteng, 23 Januari 2026.
Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari.
Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam".
Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores).
Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng.
Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu.
Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain akan kewalahan mendapatkan sumber penghasilan.
Pada banyak keluarga, termasuk keluarga kecil kami, dureng adalah masa-masa yang sangat sulit.
Roda ekonimi kian seret, pemasukan menipis, dan kalian tahu perut serta kebutuhan-kebutuhan lain tak peduli pada hujan.
Karena itu, menjadi orang Manggarai berarti harus pandai mengatur urusan dapur biar asap tetap mengepul di musim dureng.
Beberapa bulan sebelum musim dureng, stok beras dan kayu harus sudah siap biar tidak mati kelaparan. Hehehe..
**
Hari ini, jadwal les saya padat. Kegiatan pembelajaran tidak berjalan dengan efektif.
Hujan deras yang menghujam atap dan angin kencang yang menghantam pintu jendela membuat suara saya tidak dapat menjangkau setiap sudut kelas.
Lagi pula dengan cuaca yang begitu ekstrem, bagaimana anak-anak saya dapat berkonsentrasi. Karena itu, saya memberikan mereka catatan.
Mereka mencatat dengan tekun sambil sesekali mengencangkan tali pengikat bagian kepala jaket mereka dan menggosok-gosokan tangan biar tetap merasa hangat.
Saat jam pelajaran usai, saya tidak langsung pulang. Saya berteduh di pendopo sekolah selama beberapa waktu sembari menunggu hujan agak reda.
Setelah sekian lama, saya menyerah karena pada akhirnya saya tidak menemukan gejala intensitas hujan menurun.
Perjalanan pulang terasa seperti pertarungan yang sadis. Curah hujan yang begitu tinggi dan angin membuat saya kesulitan mengendarai sepeda motor. Saya berjalan oleng seprti orang mabuk berat.
Jalan berkabut dan kaca motor yang sudah buram membuat jarak pandang saya tidak begitu jauh. Saya bergerak lambat, Ruteng rasanya jauh sekali.
Di sepanjang jalan, ada begitu banyak dahan kayu yang patah. Ada juga beberapa pohon bambu yang tumbang. Pada beberapa area pinggir jalan juga terdapat tanah yang mulai longsor tipis-tipis.
Suhu nyaris beku membuat tangan saya kaku dan kesulitan menarik tali gas sepeda motor. Weong cengkali nai lako ho. Mori, co tara nggo'on keta pala kawe sewung tepo ho!? Hahahaha.
Sebelum masuk ke area Poka, ada pohon bambu yang tumbang dan menghalangi jalan. Beberapa kendaraan dari dua arah berlawanan, terutama mobil kesulitan melintasi jalan.
Di bawah hujaman hujan yang deras seorang pria terlihat sedang bertarung untuk memangkas batang bambu yang melintas dan menghalangi jalan.
Tentu kami sangat bersyukur dengan kehadiran orang seperti beliau. Semestinya, kami memberikannya sedikit uang sebagai bentuk terima kasih atas kebaikannya.
Namun karena hujan yang sangat lebat dan letak uang yang agak ribet dijangkau di dalam tas membuat saya lewat begitu saja. Ada perasaan bersalah yang begitu besar dalam rongga dada saya.
Di tengah hujan dan badai, pohon yang tumbang menjadi pintu rejeki bagi beberapa orang. Walaupun pada banyak kondisi mereka melakukannya dengan tulus tanpa mengharapkan uluran tangan para pengendara.
Di bawah guyuran hujan, ada banyak hal berputar di kepala.
Sepanjang perjalanan, saya melihat banyak petarung dan wajah-wajah lelah yang berteduh di depan kios. Ada begitu banyak wajah putus asa karena harapan yang tersapu hujan berkepanjangan.
Saya selalu ingin mengeluh, namun saya sadar di luar sana ada begitu banyak orang kurang beruntung yang belum mendapatkan pekerjaan -janji 19 juta lapangannya Gibran tidak kunjung kelihatan-.
Di luar sana, masih ada begitu banyak orang yang kehilangan fondasi ekonominya karena dirampas oleh dureng. Di luar sana ada banyak asap dapur yang tak lagi mengepul.
Di luar sana... Arghh, makin ke sini menjadi orang tua membuat saya melihat banyak peristiwa dalam banyak kacamata.
***
Tak terasa, saya sudah sampai di rumah. Rasanya mati mampus, sangat lapar, ngantuk, dan lowbat sekali.
Di pintu dapur, Mama Cino yang sedang menggendong Cino yang terlelap menyambut dengan penuh cinta.
Imusn o Mori, mut cengkali rasan. Pasti dalam hati ia berujar,"Dee Mori, ho cain rona momang ho ga". Encokkk.
Entah bagaimana, mereka membuat lelah saya hilang seketika.
Hujan dan lelah membuat kita mengerti kenapa rumah diciptakan.
Bukan rumah sebagai sebuah bangunan fisik yang saya maksudkan, tetapi perasaan nyaman karena ada orang-orang yang menanti kita pulang dan memeluk dengan penuh cinta.
Saya tahu, saya adalah satu dari sekian banyak orang beruntung!
Terima kasih Nene Jenggot!
Ruteng, 23 Januari 2026.

Teruslah menulis ew Tuang.Agu neka hemong tei seng one om ata pangkas bambu hio npsa.greng ite kin hia
BalasHapus