Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ruteng

Perihal Kerja

* Manusia punya banyak dimensi. Salah satunya ialah manusia sebagai makhluk yang bekerja. Dalam kajian filsafat manusia kita mengenalnya dengan istilah homo faber . Bukan homo homini lupus, yah! Manusia bekerja agar ia menghasilkan uang, biar bisa beli makan, memenuhi kebutuhan hidup, termasuk untuk lagak-lagak. Saya memegang prinsip: semua pekerjaan itu baik selama tidak mencuri dan tidak menyusahkan orang lain. Karena itu, tidak perlu gengsi. Kita tidak bisa makan itu gengsi! Oiaa , untuk siapa pun di luar sana yang sedang membangun usaha, semoga usahanya makin berkembang. Dan siapa pun di luar sana yang sedang mencari pekerjaan, semoga cepat mendapatkan pekerjaan yang diimpikan. Saya percaya dengan salah satu ungkapan yang mengatakan: kalau mau umur panjang dan hidup bahagia, kita harus bahagia dengan apa yang kita kerjakan. Artinya kita harus bahagia dengan pekerjaan atau profesi kita. Dari uraian ini muncul pertanyaan baru: apa itu bahagia? Apa itu bahagia dengan pekerjaan...

Hidup Adalah Teka-teki

  Foto pas wisuda; dengan Lince (oleh adiknya Fian) * S ewaktu kecil, saya bercita-cita menjadi seorang imam. Alasannya sederhana: setiap hari Minggu saya melihat romo di paroki kami, Rm. Josi Erot, Pr dan Romo Ompi Latu, Pr terlihat begitu bercahaya dengan jubahnya. Mereka seperti lebih bercahaya ketika mengangkat tubuh dan darah Kristus. Keinginan saya untuk menjadi imam kian menggebu-gebu ketika pada suatu ketika saya melihat Uskup Ruteng, Mgr. Eduardus Sangsun, SVD. Saya merasa topi uskup dan tongkat gembala menjadikannya lebih keren. Ia tidak hanya terlihat bercahaya, tetapi seolah-olah ada sayap di balik punggungnya dan menjadikannya lebih berwibawah dan luar biasa. Sejak momen-momen itu saya menanamkan tekat dalam diri untuk menjadi imam. Tidak main-main; imam yang berkarya di luar negeri. Kan keren kalo bisa keluar negeri dan keliling-keliling dunia dengan misi Gereja Katolik. Pasti bapa dan mama saya akan senang sekali ketika mendapati anak mereka berkarya di negeri ...

MENJADI MANUSIA (POLITIK)

Carlo Lagur; binatang berakal budi yang menyukai binatang liar. (Foto: Ichan Lagur) *   Beberapa minggu terakhir, adik saya, Carlo senang menikmati tayangan chanel National Geographic. Sepertinya ia menyukai binatang-binatang liar yang tentu saja tak pernah ia temui secara fisik. Dalam kesehariannya, ia memang akrab makhluk domestifikasi semacam anjing, babi, ayam, kucing, kerbau, sapi, dan sebagainya; namun tidak dengan kuda nil, ular, singa, serigala, buaya, simpanse, dan binatang liar lainnya. Saya juga menyukai tayangan-tayangan ini karena menambah skemata tentang binatang liar. Tentang kuda misalnya: kalo seekor kuda sakit, ia akan memiliki kecendrungan untuk menyendiri. Menyendiri dalam artian mengasingkan diri dari komunitasnya.   Itu yang saya ingat. Apakah binatang lain juga kecendrungan serupa? Saya kurang tahu. Hal lain yang didapat ialah: ternyata (hampir setiap) kelompok binatang hidup dalam suatu komunitas, meskipun ada juga tipe binatang yang introvert. Bina...

Mocca, Bleki, dan Kita

Beberapa waktu lalu kami mengangkut dua ekor anjing dari rumahnya Gio dan Gisel di Iteng, lalu menamai mereka Mocca dan Bleki. Mocca (Moka) ialah anjing cokelat yang kurus kering, meski dari segi makanan, sebetulnya ia mendapat asupan gizi yang cukup. Ia suka sekali menggonggong. Liat babi makan, dia menggonggong; liat orang lewat, dia menggonggong; liat Bleki makan, dia menggonggong, liat Bleki diam, dia menggonggong; pokoknya hobi betul menggonggong. Saya menduga dia kurus karena memang terlalu sering menggonggong. Dia terlalu hobi menggonggong dan diap gonggongan terlalu banyak menguras energi. Omong-omong soal Mocca, pemilihan nama Mocca sebetulnya melalui sejarah dan perdebatan yang cukup panjang. Excell, adik saya yang mengklaim diri sebagai pemilik utama anjing merasa ia berhak penuh atas penamaan kedua anjing ini. Saya bingung kenapa dia merasa diri paling berhak, padahal kami sama-sama pi ambil ini anak anjing. Apakah karena dia begitu mencintai anjing sementara di mata saya M...

MATA

Bolehkah kupinjam matamu sebentar? Aku hanya ingin tahu bagaimana cara mata indah itu melihat dunia; Aku sungguh ingin tahu seperti apa rupaku dari balik mata itu; Aku sungguh amat ingin tahu seberapa dalam mata itu menyimpanku di kedalaman jiwamu.  Maukah kau melihat segala hal tentangmu melalui mataku? Aku ingin kau tahu seperti apa kesempurnaan surga yang sedang kuperjuangkan. Ruteng, 23 Februari 2018

Bakso, Skripsi, dan Teka-Teki Menjadi Orang Katolik

Foto lama; tidak nyambung dengan isi tulisan. . . Ruteng, 23 Mei 2018 Malam sudah menunjukkan pukul 23.40 tetapi saya belum juga tidur. Ini semacam persoalan biasa bagi saya, toh biasanya saya tidur pukul satu lewat. Beberapa saat berselang, saya lapar. Saya kemudian ke dapur dan mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan. Di situ ada nasi, tetapi tidak ada sayur. Saya sulit makan nasi kosong. Saya meraba saku saya, puji Tuhan ada uang sepuluh ribu. Lebih baik saya pi beli mi dan telur di mini market samping Sentosa Raya. Oh iya ngomong-ngomong, saya suka ini mini market. Selain karena dibuka 24 jam, pelayannya ramah-ramah dan murah senyum. Saya suka orang yang suka senyum walaupun saya sendiri sulit sekali untuk senyum. Dari segi pelayanan, saya kira ini salah satu yang terbaik di Ruteng. Kebanyakan pelayan di kota Ruteng judes. Saya kalau ke toko kadang malas dengan pelayan atau babanya. Banyak dari mereka yang sudah muka jelek, judes lagi. Cala eme data ranga, di’a koe...

Puni: Natas Labar dan Kenangan

FELIXIANUS USDIALAN LAGUR* Salah satu sudut pasar Puni Ruteng. Photo by: Ichan Lagur Keterangan; Ini tulisan lama yang pernah dimuat di media VOX NTT edisi 27 Juni 2017 dengan judul  Puni; Natas Labar dan Kenangan . Saya menyimpannya di blog sebagai bagian dari dokumentasi pribadi. Terima kasih VOX NTT, saya sungguh berterima kasih untuk kesempatan belajar seperti ini.  Beberapa hari yang lalu, tepatnya Selasa, 20 Juni 2017 terjadi pembongkaran pasar Puni Ruteng. Pembongkaran itu didasari oleh perintah yang tertuang dalam kebijakan dengan nomor Pem.130/272/VI/2017 tertanggal 13 Juni 2017 perihal Pengosongan Lokasi Pasar Puni Ruteng. Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai untuk menghentikan aktivitas penggusuran tersebut. Salah seorang warga Puni, kelurahan Pau, Kasianus Mbakung,  telah mendaftarkan gugatan terhadap Pemkab Manggarai yang dianggap mencaplok tanah seluas 3.976 m 2  ke Pengadilan Negeri Ruteng dengan nomor perkara 161. PDT.G/2017/PN.RUT (V...

SURAT UNTUK TUHAN II

TUHAN kalau boleh aku meminta, Kembalikan kedamaian yang terbawa angin entah ke mana. . Perkenankanlah aku bersahabat dengan masa laluku; Agar aku dapat tetap melangkah tanpa harus terus terpasung Sisa-sisa getir yang melekat pada sekujur tubuhku. .

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...