Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ibu

IBU MATI DI TUNGKU API

04:00 Pagi masih terlalu pagi ketika wanita tua itu terbangun. Sebetulnya tidurnya belumlah lunas, toh semalam ia tidur paling akhir. Matanya seperti belum bisa terpejam ketika mengetahui anak-anaknya belum tertidur. Meski lelah memasungi raganya, ia sulit memejamkan matanya takkala anak-anaknya belum terlelap. Sesekali ia kan terbangun, walau hanya sekadar tuk memastikan kain dan selimut masih menghangatkan tubuh sang anak. Ibu, yah kurang lebih seperti itulah kami menyapanya. Di waktu sepagi itu, ketika yang lain masih terlelap dengan mimpi-mimpinya, wanita tua itu telah bergumul dengan hawa pagi yang membunuh. Hanya bermodalkan sweater lusuh yang termakan usia, ia menimba air sumur di belakang rumahnya. Yang ada hanya kesunyian, dingin dan pelita kecil yang sepertinya masih belum sanggup taklukkan gelap. Pelita itu seakan menggambarkan semangat hidupnya yang tak pernah padam, meski cahaya kecilnya cuma berjalan sejauh sejengkal cahaya. Kehidupannya sudah seperti itu semenj...

NATAL

(22/12/16,    23:35) Bu, di dapur-dapur tetangga; Aku melihat mereka asyik mencampurkan adonan kue. . Di depan rumahnya; Mereka memasang hiasan-hiasan natal. . Apa hanya kita yang tidak merayakan Natal?

SAPO*

Anda tentu tahu tempat ini. Bagiku, terkadang ini lebih dari sekedar sebuah perapian. Bentuknya yang sempit namun menghangatkan memang menjadikannya sebagai sebuah tempat yang baik untuk bercengkeramah di pagi dan sore hari, apalagi di tengah nuansa pagi Kota Ruteng yang membunuh. Ini sebuah tempat yang tepat untuk menyeka dingin sehabis bersenyawa bersama dinginnya air Ruteng. Sapo adalah sekeping kehangatan. Di tempat ini aku biasa menghabiskan waktu untuk sekedar berbagi cerita dengan Ibuku. Sambil menikmati tegukan demi tegukan kopi, kami menyulam cerita; menggali kisah masa mudanya dulu, sejenak melawan lupa akan hari-hari mudanya yang perlahan tergerus untaian waktu. Atau mungkin sesekali tentang lika-liku perjalananku kini; perkuliahan dan kisah cintanya yang berantakan (hahahah. .   neka rabo, baper). Di tempat ini, ia merangkap sebagai seorang Ibu, teman, sahabat sekaligus sebagai kekasih jiwa. Nama dan bentuknya yang sederhana; sesederhana pemenggalan suku katanya ...

Surat Untuk Ibu

Ibu, jangan kau tanyakan kenapa kau pulang selarut ini. . Percayalah! Aku tak menghabiskan malamku dengan botol-botol sopi, Tidak juga dengan puntung-puntung rupiah. . Aku senggamai malam, Bahkan terkadang hingga pagi datang menyapa. . Ak menggelutinya sembari berharap di salah satu sudutnya kan kutemukan secuil hikmah. . Aku merangkak tuk sesuap ilmu. . Aku yakin ada sebentuk kebajikan di sana. . Ibu, Maaf  bila kumengusik kedamaian malammu Bukalah pintumu dengan senyum termanis!! Aku tahu tak sepatutnya mimpi malammu kuganggu. .