Beberapa hari terakhir ramai diskusi tentang penamaan orang Manggarai. Diskusi ini dipicu oleh tulisan Salimulloh Tegar Sanubarianto di Mojok.co edisi 17 Februari 2021 tentang nama orang Manggarai yang dianggapnya visioner dan melampaui zaman. Beberapa pihak melihatnya sebagai jokes biasa, sementara beberapa pihak lain memandangnya sebagai bentuk perundungan terhadap kesakralan nilai kultural budaya Manggarai. Percakapan panjang lebar yang dimaksud, salah satunya dapat dilihat pada halaman Facebook Felix Nesi . Pro dan kontra ini mengingatkan saya pada anggapan beberapa orang NTT terkait nama orang Manggarai yang terkesan sembarangan alias suka-suka. Orang Manggarai tidak mengenal sistem marga atau fam, seperti halnya penamaan orang di pulau Timor maupun orang Batak. Salah satu kesan yang kerap saya jumpai ketika berkenalan dengan orang di luar Manggarai (meski kebanyakan dibawa dalam nada bercanda) ialah anggapan tentang nama orang Manggarai yang dianggap sembarangan alias suka-su...
You'll Never Walk Alone.