Langsung ke konten utama

TERIMA KASIH NGKIONG ART


Aksi coret-coret liar merupakan sebuah kebiasaan buruk yang menghantui setiap tembok dan tempat-tempat umum di kota manapun. Kebiasaan buruk yang umumnya dilakukan oleh para remaja ini tentunya sebuah kebiasaan yang mencerminkan manusia rendah karakter. Tak jarang tulisan-tulisan yang dihadirkan pada tembok-tembok ini berbau rasis, caci maki, pornografi, penghinaan dan berbagai ungkapan ‘yang mengganggu’ lainnya. Tidak sedikit orang yang merasa risih dengan kehadiran coretan liar ini. Selain karena pesan/nada yang ditampilkannya, tentu saja karena hampir pasti tidak ada kesan estetika yang dihadirkannya. Apa yang ditampilkan pada coretan-coretan ini hanyalah sesuatu yang mengganggu. Bahkan bisa dibilang hanya merusak pemandangan.
Warga kota Ruteng patut bersyukur dengan kehadiran Komunitas Ngkiong Art. Komunitas ini merupakan sebuah komunitas yang terlahir sebagai reaksi terhadap maraknya aksi coret liar yang umumnya dilakukan oleh karangan remaja. Komunitas yang dibentuk pada awal tahun 2016 ini begitu peka melihat fenomena yang melanda tembok-tembok di kota Ruteng.  Di samping itu, komunitas ini menjadi wadah dan lahan bagi anak-anak muda yang hendak berkarya dan mempunyai bakat di bidang grafiti. Di sinilah para pelukis dapat menyalurkan ekspresi dan talentanya; di sinilah menemukan dunianya.  Dengan slogannnya: “stop coret liar!” komunitas ini berkarya dengan menghiasi wajah-wajah tembok kota Ruteng yang sebelumnya penuh dengan karya jahil ataupun berbagai bentuk ekspresi psikologis para penulis/pelukis jalanan.
Berkat pergerakan gesit komunitas ini, coretan yang sebelumnya berbau rasis, caci maki, pornografi, penghinaan dan berbagai ungkapan ‘yang mengganggu’ lainnya kini berganti rupa menjadi gambar-gambar yang lebih indah, punya kesan estetik dan tentunya mampu memanjakan mata setiap orang yang melihatnya. Tidak hanya itu, mereka juga menghadirkan tulisan-tulisan yang berisi pesan-pesan sarat makna bagi siapapun yang melintasinya, terutama bagi para remaja dan anak-anak sekolah.
Bangunan bagian barat SMAK Setia Bakti Ruteng, jembatan di depan Gereja Katedral Baru, tembok di Kantor BKD, dan masih banyak tembok liar lainnya adalah contoh nyata kwalitas dan kinerja komunitas ini. Kreasi tangan emas mereka mampu menyulap tembok-tembok yang dulunya ‘kotor’ menjadi sebuah pemandangan yang eksotis dan punya kesan estetik. Kini tidak sedikit anak-anak muda maupun dewasa yang sekali-sekali mengabadikan momennya dengan menjadikan karya tangan komunitas ini sebagai wallpapernya.
Menyangkut pendanaan, Evan Lahur selaku salah satu penggagas terbentukya komunitas ini menjelaskan: “soal pendanaan, kita menggunakan dua konsep. Konsep yang pertama kita gunakan dana komunitas. Kedua, kita tawarkan tenaga ke pemerintah atau pihak-pihak lain yang sifatnya pribadi dan mereka yang tanggung dana untuk beli cat dan lainnya. Alhamduliah, selama ini kegiatan dapat berjalan dengan lancar.”
Tentunya untuk lebih memperlancar kegiatannya,komunitas ini membutuhkan dukungan dari semua pihak baik menyangkut dukungan moril, tenaga, biaya dan berbagai bentuk dukungan lainnya.
“Karena Ngkiong Art, jadi seni kita punya Ruteng e. .
Terima kasih Ngkiong Art! Teruslah berkarya!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...

Dureng

* Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari. Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam". Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores). Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng. Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu. Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain aka...

PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA??

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah pengalaman sederhana. Ceritanya berawal ketika di suatu siang saya mengendarakan sepeda motor ke kampus, seorang anak di kompleks saya bernyanyi dengan semangat dan penuh penghayatan. Saya pun tak sengaja menangkap sedikit penggalan lirik yang dinyanyikannya, kurang lebih seperti ini: “Pramuka, pramuka raja rimba. . Marinir, marinir raja laut. . Kopauss, kopasus raja di udara. . PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” Tentu mayoritas orang sangat mengenal lagu ini; dan bisa dibilang lagu ini merupakan salah satu lagu anak yang hampir-hampir tak lekang oleh zaman. Kita yang sewaktu kecil mengikuti kegiatan pramuka tentu akrab dengan lagu ini, kita pasti dapat menyanyikan tiap baris dan bait liriknya dengan baik; kalaupun tidak terlibat dalam kegiatan pramuka, saya yakin paling tidak kita pernah mendengarnya. Yang membuat saya merasa tertarik ialah   penggalan lirik pada bagian terakhir yang berbunyi “PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” ...