Langsung ke konten utama

Hidup Adalah Teka-teki

 

Foto wisuda dengan Lince (oleh adiknya Fian)
Foto pas wisuda; dengan Lince (oleh adiknya Fian)




*

Sewaktu kecil, saya bercita-cita menjadi seorang imam. Alasannya sederhana: setiap hari Minggu saya melihat romo di paroki kami, Rm. Josi Erot, Pr dan Romo Ompi Latu, Pr terlihat begitu bercahaya dengan jubahnya. Mereka seperti lebih bercahaya ketika mengangkat tubuh dan darah Kristus.

Keinginan saya untuk menjadi imam kian menggebu-gebu ketika pada suatu ketika saya melihat Uskup Ruteng, Mgr. Eduardus Sangsun, SVD. Saya merasa topi uskup dan tongkat gembala menjadikannya lebih keren. Ia tidak hanya terlihat bercahaya, tetapi seolah-olah ada sayap di balik punggungnya dan menjadikannya lebih berwibawah dan luar biasa.

Sejak momen-momen itu saya menanamkan tekat dalam diri untuk menjadi imam. Tidak main-main; imam yang berkarya di luar negeri. Kan keren kalo bisa keluar negeri dan keliling-keliling dunia dengan misi Gereja Katolik. Pasti bapa dan mama saya akan senang sekali ketika mendapati anak mereka berkarya di negeri Eropa. Di Flores, kalo anak jadi biarawan, mereka punya orang tua jadi tenar. Minimal di mereka punya kampung.

Saya kemudian masuk Seminari Kisol berproses selama tiga tahun. Sayangnya, saya keluar ketika kelas 3. Saya tidak diterima di SMA. Untuk waktu yang lama, saya stres setengah mati. Saya melanjutkan studi di SMAN 1 Langke Rembong. Proses dan dimanika di SMA menjadikan saya mengubah haluan cita-cita saya.

Bisa sedikit-sedikit matek dan fisika pas kelas 1 membuat saya yakin untuk menjadi seorang kontraktor. Rasanya keren saja; di lapangan pake riben gelap, celana levis, pake helm kontraktor, dan berurusan dengan banyak orang besar. Dalam banyak hal, saya sering pilih sesuatu hanya karena sesuatu terasa keren.

Saya berkuliah di teknik sipil Undana. Sayangnya hanya sampai ke semester ke tiga. Nafas saya tidak cukup kuat dengan hitungan-hitungan. Lalu dengan putus asa memutuskan masuk ke prodi PBSI STKIP Santu Paulus Ruteng. Dalam ketersesatan, saya justru menemukan tempat ini sebagai rumah.
Kenapa saya katakan tersesat? Setelah gagal di teknik sipil Undana, saya tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kebingungan hidup tanpa arah dan aktivitas yang jelas, saya kemudian memilih untuk mengambil jurusan matematika di STKIP Santu Paulus Ruteng. Ehh, sampe di meja pendaftaran, tiba-tiba ubah pilih bahasa dan sastra Indonesia. Alasannya sederhana: tidak banyak hitungannya.

Karena merasa nyambung dengan jurusan ini, saya kemudian bermimpi untuk menjadi jurnalis dan punya mimpi yang besar untuk bisa melanjutkan studi saya ke jenjang S2. Saya merasa sangat tertarik pada lingustik, terutama semantik. Kondisi ekonomi tidak memungkinkan saya untuk melanjutkan studi ke tahap selanjutnya.

Saya galau untuk waktu yang lama. Dalam kegalauan, saya dan teman-teman membawa lamaran kerja ke segala penjuru mata angin. Ehh tau-taunya beberapa saat kemudian saya terpilih menjadi seorang staf pada sebuah perusahaan sepeda motor di salah satu kota di Flores. Di usia yang masih muda, posisi yang saya tempati sangat strategis dan bisa dibilang gaji yang saya terima lumayan bisa buat bajingan dan kaco-kaco. Hehehe. .

Meski punya gaji dan prestise yang besar, saya melepaskan pekerjaan tersebut. Saya tidak bisa mengikuti ritme dan tuntutan kerjanya. Bapa mama dan keluarga saya sangat menyayangkan keputusan tersebut. Mereka menyanyangkan bagaimana susahnya sampai ke posisi tersebut, terutama gaji bulanan yang saya terima. Pekerjaan bukan hanya soal gaji to teman to? Ada banyak hal lain yang jadi varibel penentunya terkait mau lanjut atau tidak. Saya berpikir tidak semua variabel mesti saya uraikan di sini, cukup jadi bahan renungan pribadi.

Beberapa saat berselang, saya menjadi seorang staf divisi area di lembaga keuangan koperasi. Awalnya coba-coba, ujung-ujungnya saya merasa nyaman dengan segala hal yang ada di dalamnya. Di sini saya menemukan kenyamanan; teman-teman dan orang-orang yang saya jumpai membuat saya nyaman dan betah. Setelah menjadi staf divisi saya bermimpi agar suatu hari nanti saya menjadi manager.

Ketika mimpi saya masih bagus-bagusnya, saya ikut-ikutan tes CPNS formasi 2019 dan tau-taunya saya lulus. Sedari awal saya hanya ikut-ikutan tes. Tak disangka-sangka ternyata lulus. Brengsek juga ini barang satu ini. Formasi tahun lalu saya mete berhari-hari, belajar setengah mati, dan menaruh harapan penuh tapi tidak lulus. Sekarang ikut-ikut sembarang SKD, baca-baca materi tidak serius, justru lulus. Liat 160-an orang di formasi yang sama buat saya malas, apalagi pekerjaan sebagai staf koperasi sudah sangat bagus.

Saya serius sekali pas memasuki tahapan SKB. Dua saingan saya bisa dibilang keras: satu gadis cantik lulusan S2 kampus besar, satunya seorang gadis cantik yang sudah lama mengajar. Untuk beberapa waktu saya sempat merasa begitu kecil di hadapan mereka. Perasaan kecil itulah yang membuat saya mete berminggu-minggu dan bisa jawab soal dengan cukup baik.

Kini saya sudah mulai mengabdi di salah satu SMP di Manggarai Timur. Untuk beberapa waktu ke depan saya akan belajar bersama anak-anak tentang puisi, cerpen, teks, paragraf, gaya bahasa, de el el. Terlalu lama bekerja sebagai tukang hitung uangnya orang di koperasi membuat saya lupa pada materi-materi kuliah di prodi PBSI. Semoga saya bisa menjalankan tugas saya dengan baik, biar uang yang negara keluarkan tidak sia-sia. Supaya generasi Indonesia makin cerdas dan unggul. Hore‼

Sekarang saya bercita-cita untuk menjadi titik-titik. Tak perlu saya sebutkan, cukup saya simpan dalam hati. Bahwa kemudian perjalanan hidup membawa saya ke mana pun ia mau, itu persoalan lain. Bisa jadi besok saya lanjut kuliah S2, atau mungkin jadi kepsek, atau mungkin juga jadi kepala dinas, atau jadi kepala mafia, atau banting stir ke piara babi dan ayam pedaging, atau jadi ayahnya anak-anak yang menemanimu menyongsong hari tua, atau jadi pastor paroki, atau anggota DPR, atau bupati; saya tidak tidak tahu. Intinya jalani apa yang ada sambil menantikan kejutan-kejutan lain yang saya hampiri dan yang menghampiri hidup saya.

**

Dari rangkaian peristiwa tersebut, saya mendapati sebuah pelajaran penting. Bagi saya hidup adalah sebuah misteri dan teka-teki. Hidup selalu punya caranya sendiri untuk membawa kita menuju suatu titik yang tak kita duga.

Kadang ada hal yang kita dambakan secara begitu mendalam, tau-taunya tak kunjung kita dapatkan. Ada mimpi yang kita kejar sampe wali ngger wa ulu, tapi tidak juga kita dapatkan. Kegagalan meraih mimp-mimpi tersebut terkadang membuat kita stres dan tidak tidur berhari-hari. Harapan yang besar pada sebuah mimpi membuat kita begitu terpuruk ketika kita gagal meraihnya. Kita kemudian terkadang menjadi merasa tidak berguna.

Sebaliknya ada hal-hal tidak terduga yang tiba-tiba saja menjadi bagian dari hidup kita. Kadang ada hal di mana kita ikut asal-asalan tanpa berharap lebih; istilahnya ikut arus atau just for fun saja. Tau-taunya kita dapatkan dan pada perjalanannya membuat kita nyaman dengan sendirinya. Pada suatu titik yang bernama perjalanan, kejutan tersebut akan menepuk pundak kita dan membuat kita tiba-tiba berguman, “wah, kok bisa?”,

Poin yang mau saya sampaikan ialah: hidup adalah sebuah misteri. Hidup adalah teka-teki. Kita wajib bermimpi dan berusaha. Ketika mimpi-mimpi tersebut menjauh, yah sudahlah. Banyak pembaca mungkin tidak setuju dengan ini bagian; juga saya akan makin terdengar seperti sok menggurui. Hehehe. . Bagi saya, kalo tidak dapat, yah sudah! Berusahalah sebaik mungkin, sebaik yang kita bisa; kalo tidak dapat, yah sudah. Nanti ada saja pintu lain yang terbuka untuk kita; dan di dalam ruang tersebut kita bisa menemukan dan menciptakan dunia kita.

Toe kole nggo maksudn e mas: toko wa kid ite, lalu simsalabim adakadabra tiba-tiba jadi dapat saja sesuatu. Tidak! Poinnya itu tadi; setiap ada peluang, cobalah didekati. Kalo tidak dapat, ada antrean peluang yang lain. Bagaimana pun juga, saya percaya akan selalu ada peluang-peluang lain yang akan datang ke dalam hidup kita.

Mimpi dan cita-cita hidup terkadang seperti jodoh. Mau kejar bagaimana pun, kalau memang tidak jodoh pasti tidak akan didapat. Sebaliknya, meski terkadang kalo niat awalnya cuma main gila, tapi kalo Tuhan su ator, pasti jadian dan nyaman dengan sendirinya. Iya to!?? Atau bagaimana e??


Ruteng, 25 Februari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...

Dureng

* Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari. Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam". Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores). Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng. Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu. Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain aka...

PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA??

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah pengalaman sederhana. Ceritanya berawal ketika di suatu siang saya mengendarakan sepeda motor ke kampus, seorang anak di kompleks saya bernyanyi dengan semangat dan penuh penghayatan. Saya pun tak sengaja menangkap sedikit penggalan lirik yang dinyanyikannya, kurang lebih seperti ini: “Pramuka, pramuka raja rimba. . Marinir, marinir raja laut. . Kopauss, kopasus raja di udara. . PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” Tentu mayoritas orang sangat mengenal lagu ini; dan bisa dibilang lagu ini merupakan salah satu lagu anak yang hampir-hampir tak lekang oleh zaman. Kita yang sewaktu kecil mengikuti kegiatan pramuka tentu akrab dengan lagu ini, kita pasti dapat menyanyikan tiap baris dan bait liriknya dengan baik; kalaupun tidak terlibat dalam kegiatan pramuka, saya yakin paling tidak kita pernah mendengarnya. Yang membuat saya merasa tertarik ialah   penggalan lirik pada bagian terakhir yang berbunyi “PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” ...