*
Sewaktu kecil, saya bercita-cita menjadi seorang imam. Alasannya sederhana: setiap hari Minggu saya melihat romo di paroki kami, Rm. Josi Erot, Pr dan Romo Ompi Latu, Pr terlihat begitu bercahaya dengan jubahnya. Mereka seperti lebih bercahaya ketika mengangkat tubuh dan darah Kristus.
Keinginan saya untuk menjadi imam kian
menggebu-gebu ketika pada suatu ketika saya melihat Uskup Ruteng, Mgr. Eduardus
Sangsun, SVD. Saya merasa topi uskup dan tongkat gembala menjadikannya lebih
keren. Ia tidak hanya terlihat bercahaya, tetapi seolah-olah ada sayap di balik
punggungnya dan menjadikannya lebih berwibawah dan luar biasa.
Sejak momen-momen itu saya menanamkan tekat
dalam diri untuk menjadi imam. Tidak main-main; imam yang berkarya di luar
negeri. Kan keren kalo bisa keluar negeri dan keliling-keliling dunia dengan
misi Gereja Katolik. Pasti bapa dan mama saya akan senang sekali ketika
mendapati anak mereka berkarya di negeri Eropa. Di Flores, kalo anak jadi
biarawan, mereka punya orang tua jadi tenar. Minimal di mereka punya kampung.
Saya kemudian masuk Seminari Kisol berproses
selama tiga tahun. Sayangnya, saya keluar ketika kelas 3. Saya tidak diterima
di SMA. Untuk waktu yang lama, saya stres setengah mati. Saya melanjutkan studi
di SMAN 1 Langke Rembong. Proses dan dimanika di SMA menjadikan saya mengubah
haluan cita-cita saya.
Bisa sedikit-sedikit matek dan fisika pas
kelas 1 membuat saya yakin untuk menjadi seorang kontraktor. Rasanya keren saja;
di lapangan pake riben gelap, celana levis, pake helm kontraktor, dan berurusan
dengan banyak orang besar. Dalam banyak hal, saya sering pilih sesuatu hanya
karena sesuatu terasa keren.
Saya berkuliah di teknik sipil Undana.
Sayangnya hanya sampai ke semester ke tiga. Nafas saya tidak cukup kuat dengan
hitungan-hitungan. Lalu dengan putus asa memutuskan masuk ke prodi PBSI STKIP
Santu Paulus Ruteng. Dalam ketersesatan, saya justru menemukan tempat ini
sebagai rumah.
Kenapa saya katakan tersesat? Setelah gagal di teknik sipil Undana, saya tidak
tahu harus berbuat apa. Dalam kebingungan hidup tanpa arah dan aktivitas yang
jelas, saya kemudian memilih untuk mengambil jurusan matematika di STKIP Santu
Paulus Ruteng. Ehh, sampe di meja pendaftaran, tiba-tiba ubah pilih bahasa dan
sastra Indonesia. Alasannya sederhana: tidak banyak hitungannya.
Karena merasa nyambung dengan jurusan ini,
saya kemudian bermimpi untuk menjadi jurnalis dan punya mimpi yang besar untuk
bisa melanjutkan studi saya ke jenjang S2. Saya merasa sangat tertarik pada
lingustik, terutama semantik. Kondisi ekonomi tidak memungkinkan saya untuk
melanjutkan studi ke tahap selanjutnya.
Saya galau untuk waktu yang lama. Dalam
kegalauan, saya dan teman-teman membawa lamaran kerja ke segala penjuru mata
angin. Ehh tau-taunya beberapa saat kemudian saya terpilih menjadi seorang staf
pada sebuah perusahaan sepeda motor di salah satu kota di Flores. Di usia yang
masih muda, posisi yang saya tempati sangat strategis dan bisa dibilang gaji
yang saya terima lumayan bisa buat bajingan dan kaco-kaco. Hehehe. .
Meski punya gaji dan prestise yang besar,
saya melepaskan pekerjaan tersebut. Saya tidak bisa mengikuti ritme dan
tuntutan kerjanya. Bapa mama dan keluarga saya sangat menyayangkan keputusan
tersebut. Mereka menyanyangkan bagaimana susahnya sampai ke posisi tersebut,
terutama gaji bulanan yang saya terima. Pekerjaan bukan hanya soal gaji to
teman to? Ada banyak hal lain yang jadi varibel penentunya terkait mau lanjut
atau tidak. Saya berpikir tidak semua variabel mesti saya uraikan di sini,
cukup jadi bahan renungan pribadi.
Beberapa saat berselang, saya menjadi
seorang staf divisi area di lembaga keuangan koperasi. Awalnya coba-coba,
ujung-ujungnya saya merasa nyaman dengan segala hal yang ada di dalamnya. Di
sini saya menemukan kenyamanan; teman-teman dan orang-orang yang saya jumpai
membuat saya nyaman dan betah. Setelah menjadi staf divisi saya bermimpi agar
suatu hari nanti saya menjadi manager.
Ketika mimpi saya masih bagus-bagusnya, saya
ikut-ikutan tes CPNS formasi 2019 dan tau-taunya saya lulus. Sedari awal saya
hanya ikut-ikutan tes. Tak disangka-sangka ternyata lulus. Brengsek juga ini
barang satu ini. Formasi tahun lalu saya mete berhari-hari, belajar setengah
mati, dan menaruh harapan penuh tapi tidak lulus. Sekarang ikut-ikut sembarang
SKD, baca-baca materi tidak serius, justru lulus. Liat 160-an orang di formasi yang
sama buat saya malas, apalagi pekerjaan sebagai staf koperasi sudah sangat
bagus.
Saya serius sekali pas memasuki tahapan
SKB. Dua saingan saya bisa dibilang keras: satu gadis cantik lulusan S2 kampus
besar, satunya seorang gadis cantik yang sudah lama mengajar. Untuk beberapa
waktu saya sempat merasa begitu kecil di hadapan mereka. Perasaan kecil itulah
yang membuat saya mete berminggu-minggu dan bisa jawab soal dengan cukup baik.
Kini saya sudah mulai mengabdi di salah
satu SMP di Manggarai Timur. Untuk beberapa waktu ke depan saya akan belajar
bersama anak-anak tentang puisi, cerpen, teks, paragraf, gaya bahasa, de el el.
Terlalu lama bekerja sebagai tukang hitung uangnya orang di koperasi membuat
saya lupa pada materi-materi kuliah di prodi PBSI. Semoga saya bisa menjalankan
tugas saya dengan baik, biar uang yang negara keluarkan tidak sia-sia. Supaya
generasi Indonesia makin cerdas dan unggul. Hore‼
Sekarang saya bercita-cita untuk menjadi
titik-titik. Tak perlu saya sebutkan, cukup saya simpan dalam hati. Bahwa
kemudian perjalanan hidup membawa saya ke mana pun ia mau, itu persoalan lain.
Bisa jadi besok saya lanjut kuliah S2, atau mungkin jadi kepsek, atau mungkin
juga jadi kepala dinas, atau jadi kepala mafia, atau banting stir ke piara babi dan ayam pedaging, atau
jadi ayahnya anak-anak yang menemanimu menyongsong hari tua, atau jadi
pastor paroki, atau anggota DPR, atau bupati; saya tidak tidak tahu. Intinya jalani apa yang ada sambil menantikan
kejutan-kejutan lain yang saya hampiri dan yang menghampiri hidup saya.
**
Dari rangkaian peristiwa tersebut, saya
mendapati sebuah pelajaran penting. Bagi saya hidup adalah sebuah misteri dan
teka-teki. Hidup selalu punya caranya sendiri untuk membawa kita menuju suatu
titik yang tak kita duga.
Kadang ada hal yang kita dambakan secara
begitu mendalam, tau-taunya tak kunjung kita dapatkan. Ada mimpi yang kita
kejar sampe wali ngger wa ulu, tapi
tidak juga kita dapatkan. Kegagalan meraih mimp-mimpi tersebut terkadang
membuat kita stres dan tidak tidur berhari-hari. Harapan yang besar pada sebuah
mimpi membuat kita begitu terpuruk ketika kita gagal meraihnya. Kita kemudian
terkadang menjadi merasa tidak berguna.
Sebaliknya ada hal-hal tidak terduga yang
tiba-tiba saja menjadi bagian dari hidup kita. Kadang ada hal di mana kita ikut
asal-asalan tanpa berharap lebih; istilahnya ikut arus atau just for fun saja. Tau-taunya kita dapatkan dan pada perjalanannya membuat kita
nyaman dengan sendirinya. Pada suatu titik yang bernama perjalanan, kejutan
tersebut akan menepuk pundak kita dan membuat kita tiba-tiba berguman, “wah,
kok bisa?”,
Poin yang mau saya sampaikan ialah: hidup
adalah sebuah misteri. Hidup adalah teka-teki. Kita wajib bermimpi dan
berusaha. Ketika mimpi-mimpi tersebut menjauh, yah sudahlah. Banyak pembaca
mungkin tidak setuju dengan ini bagian; juga saya akan makin terdengar seperti
sok menggurui. Hehehe. . Bagi saya,
kalo tidak dapat, yah sudah! Berusahalah sebaik mungkin, sebaik yang kita bisa;
kalo tidak dapat, yah sudah. Nanti ada saja pintu lain yang terbuka untuk kita;
dan di dalam ruang tersebut kita bisa menemukan dan menciptakan dunia kita.
Toe
kole nggo maksudn e mas: toko wa kid ite, lalu simsalabim adakadabra tiba-tiba
jadi dapat saja sesuatu. Tidak! Poinnya itu tadi;
setiap ada peluang, cobalah didekati. Kalo tidak dapat, ada antrean peluang
yang lain. Bagaimana pun juga, saya percaya akan selalu ada peluang-peluang
lain yang akan datang ke dalam hidup kita.
Mimpi dan cita-cita hidup terkadang seperti
jodoh. Mau kejar bagaimana pun, kalau memang tidak jodoh pasti tidak akan
didapat. Sebaliknya, meski terkadang kalo niat awalnya cuma main gila, tapi
kalo Tuhan su ator, pasti jadian dan nyaman dengan sendirinya. Iya to!?? Atau bagaimana e??
Ruteng, 25 Februari 2021
Komentar
Posting Komentar