Langsung ke konten utama

Postingan

DISKRIMINASI ALA BAHASA

Beberapa dekade terakhir, feminisme menjadi salah satu tema sentral yang ramai di bicarakan khalayak umum. Pembicaraan ini mewarnai tiap diskusi baik dalam tataran formal maupun informal. Topik ini lahir sebagai sebuah reaksi ketidakpuasan kaum wanita atas fenomena dan realita yang terjadi di tengah masyarakat. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, wanita cenderung berada pada sebuah posisi yang banyak kali tidak diuntungkan. Wanita cendrung berada pada posisi “nomor dua”, menjadi kaum yang termarginalkan, dan kadang terabaikan. Produk budaya telah membentuk sebuah minsdset, seakan kaum wanita memiliki kedudukan yang lebih rendah daripada kaum lelaki. Padahal jika kita berkaca pada landasan biblis, wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Para filsuf dan teolog kemudian menafsirkannya sebagai sebuah sinyal dan harapan bahwa pria dan wanita sama dan sederajat adanya. Tidak pihak yang lebih tinggi, tidak ada pihak yang lebih rendah. Persamaan dan kesederajatan yang dimaksud mencakup...

Surat Untuk Ibu

Ibu, jangan kau tanyakan kenapa kau pulang selarut ini. . Percayalah! Aku tak menghabiskan malamku dengan botol-botol sopi, Tidak juga dengan puntung-puntung rupiah. . Aku senggamai malam, Bahkan terkadang hingga pagi datang menyapa. . Ak menggelutinya sembari berharap di salah satu sudutnya kan kutemukan secuil hikmah. . Aku merangkak tuk sesuap ilmu. . Aku yakin ada sebentuk kebajikan di sana. . Ibu, Maaf  bila kumengusik kedamaian malammu Bukalah pintumu dengan senyum termanis!! Aku tahu tak sepatutnya mimpi malammu kuganggu. .

Sajak Anak Jalanan

Apa kau tahu rasanya menjadi aku? Melalui hari tanpa belaian lembut Ibu, Melewati malam tanpa dekapan Sang Ayah, Hanya dingin, kelam, sepi. . Tanpa seorangpun yang peduli. . Apa kau tahu rasanya? Ketika mentari berlabuh di pelupuk senja, aku merebahkan tubuhku di tepi jalanan berselimutkan mimpi-mimpi yang getir Hanya beralaskan koran, yah koran berparaskan senyum tuan-tuan penguasa Dan di kala mentari kembali menyapa, Aku kembali melangkahkan kakiku, Menyelusuri lorong-lorong kota, Tergontai dalam langkah yang kian tak berarah‼ Barangkali kan kutemukan sesuap nasi Jangan tanyakan mimpi dan hari esokku! semua terlampau pahit tuk kuimpikan Semua terlalu suram tuk kuhayalkan dan teruntuk tuan-tuan penguasa, berjanjilah: “Jangan pernah kau lahirkan kau lagi‼”

SURAT PENJAGA MALAM

Nak, teruslah berjalan, Tak patut bila langkahmu terhenti. . Selagi nadimu berdetak; Jangan kau padamkan asamu. . Dunia kita memang terkadang kejam. . Jadi, biasakanlah dirimu! Tak mengapa bila Ayah senggamai malam, Demi sesuap nasi dan segumpal rupiahmu. . Tak seberapa dingin ini; Asal kau dapat tetap bersekolah. . Lanjutkan mimpimu Nak! Jangan biarkan keadaan ini mengekangmu. . Tentang hari-hari kita yang keras; Cukup lantai dan dinding ini yang tahu. . Simpanlah tawar dan getirnya di balik sarung bantalmu. . Balutlah  sakit dan pedihnya dengan senyuman termanis. . Kerisauan itu cukup kita yang tahu; Aku, Kau dan Ibumu. . Jangan ikuti jejak Ayahmu Nak! Rajutlah esok yang baik untuk anak-anakmu kelak. . Belikan mereka sepatu dan baju baru di kala Natal; Temani tidur malam mereka dengan pelukan terhangat. . Tuntun mereka membaca dan menulis. . Ayah tak ingin mereka kesepian sepertimu. .

Dureng Januari

(26/01/16  21:45) Kulayangkan pandanganku di antara terali jendela, menatap rerintiknya yang tak jua lelah menghujami bumi. . Pikiranku menerawang jauh melewati awan, tempat hujan itu bersemi. . Aku  menyelipkan namamu di antara sela2 rintiknya. . Seiring detak waktu, seirama hentakan bulir-bulirnya pada atap rumahku, Aku mengalunkan ode tentangmu; Tentangmu yg pada awalnya adalah mimpi lalu menjelma menjadi sebuah realita dan hari esok. . Kau adalah anugerah terindah; yang membuatku merasa dan menjadi ada: membuatku mengerti akan arti dan indahnya kebersamaan. . Kiranya kau hadir tak cuma sekejap seumpama pelangi. . Jadilah mentari yang abadi‼

“LADY DIANA”

(22/06/15   09:46) Garis wajahmu yang kian menua Jadi saksi perjalanmu yang panjang. . . Segala wujud dan rupa kerasnya dunia Pernah menjadi bagian dari langkah kakimu. . . Sakit dan tangismu tak pernah terlihat, Terselubung di balik senyumanmu yang teduh. . Sakit dan tangis itu tersimpan rapi dalam relung jiwamu, Tanpa seorangpun yang tahu getir dan pedihnya. . . Ragamu kian melemah termakan arus waktu, kini hanya semangat dan arti hidup yang coba kau titipkan. . . Katamu dalam suaramu yang kian parau: “Nak, mungkin ini bisa jadi bekalmu kelak, tetaplah hidup‼” IBU, jika esok kupunya sedikit uang saku. . . Tak banyak yang kan kubeli. . . Akan kubelikan sepasang sandal baru, Agar kemurnian surga di alas kakimu tetap bercahaya. . . #Love you so much MOM

DILEMA

(03/06/21    21:55) Ketika kurebahkan tubuhku di pangkuan malam, Sesuatu yang lain dari dalam diriku kembali bersuara. . . suara-suara itu kembali mengusik tidur malamku, hingga katupan kelopak mataku makin sulit tuk kukedipkan. . . Pada belahannya yang lain ia bisikkan: “Teruskanlah‼” Sementara belahannya yang lain bisikkan: “Berpalinglah,, akan ada masanya kau kan terbisa tuk menjadi biasa‼” Dan lagi-lagi seperti kemarin; Tak ada jawaban yang didapati, Sbab dunia mimpi (lagi-lagi) membawaku pergi hingga kicauan burung membangunkanku dalam pagi yang risau. . .