Langsung ke konten utama

WAE TELANG DAN SEBERKAS KEHANGATAN DI PENGHUJUNG SENJA



Wae Telang desa Lendong, Kecamatan Lembor Selatan. Taken by: Nando Pabur
Matahari bergerak malu-malu menuju peraduannya di ufuk barat. Rona merah lembayung senja seperti menambah kesan eksotik Lendong kecil di sore itu. Seiring cahaya langit yang kian memudar, satu persatu burung kembali ke sangkarnya masing-masing. Bersama alunan nada alam yang teratur, warga Lendong yang mayoritas petani pun kembali pulang dari kesibukannya. Senyum ceria dan gelak tawa mewarnai tiap derap langkah mereka setelah seharian bersimbah peluh di sawahnya masing-masing. Sesekali mereka kan melempar senyum pada siapa saja yang mereka temui di sepanjang jalan. Sungguh sebuah senyum tulus yang membuat kami merasa sebagai bagian dari kehidupan mereka yang seutuhnya. Senyum mereka menjadikan kami seperti berada di tengah rumah sendiri.

Ketika mentari benar-benar tenggelam di ujung barat langit, ketika suara jangkrik kian menampakkan rupanya, para petani (Lendong) kan menuju ke tempat pemandian umum. Langkah kaki mereka bergerak teratur bertemankan cahaya Handphone-nya yang tak seberapa. Di permandian itu, mereka kan bersenyawa bersama air, menyeka sisa-sisa peluh yang membekas pada tiap inci badan mereka. Mereka menyebut tempat itu Wae Telang. Wae Telang inilah yang mengembalikan sisa-sisa asa yang disandarkan pada tiap pematang sawah mereka. Di permandian ini mereka seperti menemukan ruang untuk memulihkan tenaga yang terpanggang mentari dan terhisap tanah sawah ladang. Wae Telang ialah salah satu sumber mata air utama bagi warga desa Lendong. Mata air ini dapat digunakan untuk berbagai hal seperti mandi, air minum, mencuci, mengakhiri sayur dan sawah, dan lain sebagainya. Letak mata air ini di Dusun Bonda; yah kira-kira 10 menit dari tempat kami menginap.
Kami pun sama seperti masyarakat Desa Lendong. Setelah seharian bergumul dengan kegiatan-kegiatan program-program KKN, kami pasti menyempatkan diri untuk membersihkan diri di tempat ini. Meski tiap rumah yang kami tempati memiliki kamar mandi dan air mandi yang cukup, entah mengapa kami seperti tak ingin melewatkan setiap senja tanpa sentuhan sejuk mata air Wae Telang.
Mata air yang menyimpan mitos dan cerita sejarah ini ialah salah satu sumber mata air terbaik yang pernah saya temui. Identitas terbaik yang disematkan didasari oleh kuantitas dan kualitas air yang tidak dapat dibantah. Keperawanan hutan sekitar lokasi mata air menjadikan debit air yang mengalir sangat besar. Di pemandian ini, terdapat 5 sosor (pancuran) dan satu buah bak penampung yang digunakan untuk menampung air yang kemudian akan dialirkan melalui pipa menuju Dusun Reweng. Pada salah satu sisi bak pun terdapat pancuran air. Warga dapat mandi, menimba ataupun mencuci pada pancuran ini. Jadi totalnya di tempat ini terdapat 6 buah pancuran.
Kualitas airnya pun sudah teruji. Dari percakapan dengan salah seorang warga di suatu sore, saya mendapatkan fakta bahwa mata air ini memiliki tingkat kejernihan/kebersihan 95 %.
“Jadi penelitian data lau mai lite tah anak geong, jaong dise kali gah 95 persen mutu de wae ho’o. Mutu kot apa’y melaju data skolah’n go anak. Jadi, nganceng inung langsung lite wae ndo’o, konem toe ma teneng’n. Pernah tegi kut pande perusahaan wae lise lau mai, tapi toe ma gorid ase kae so se beo,” (Menurut penelitian orang, mutu air ini 95%. Bermutu kata mereka yang bersekolah. Jadi, bisa diminum langsung meskipun tidak dimasak. Pernah diminta untuk buat perusahaan air oleh mereka, namun tidak disetujui oleh saudara-saudara di sini – red) demikian kata salah seorang Bapak tua di suatu sore.
Tanpa berpikir panjang saya langsung meneguk air Wae Telang sampai puas. Ternyata benar, air ini sungguh-sungguh menyegarkan dan mengusir dahaga yang sudah cukup lama saya tahan (beberapa jam setelah meminumnya pun, tidak ada efek yang buruk terhadap perut saya).
Ia kemudian melanjutkan kisahnya tentang Wae Telang dengan bangga,“Pernah mai ndo’o Bupati Anton Bagul agu pejabat-pejabat anak (sekitar tahun 2000). Hang leso se ho taung ise agu inung langsung wae ho ise. Imbi ko toe li anak, eme manga ata beti, nganceng ina laing eme poli cebong se ho.” (Pernah datang ke sini Bupati Anton Bagul dan pejabat-pejabat. Mereka makan di sini dan minum langsung air ini. Percaya atau tidak oleh anak, kalau ada sakit, bisa sembuh setelah mandi di sini – red).
Saya hanya bisa angguk-angguk sambil menyikat kaki saya.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 
Yah begitulah Wae Telang adanya!
Di tempat inilah kami, para peserta KKN kelompok 19 mandi, menimba air ataupun mencuci. Sambil menunggu giliran untuk mandi, kami biasanya saling berbagi kisah dan cerita satu dengan yang lain. Di bawah jarak sejengkal cahaya, kelompok mahasiswa KKN dan masyarakat desa Lendong seperti menemukan ruang untuk berinteraksi. Ruang semacam ini memang kadang sulit untuk kami temukan mengingat budaya kerja duat gula we’e mane (pagi bekerja sore pulang-red) masyarakat pedesaan yang masih amat kental. Saat perbincangan spontan itu ada banyak hal yang dikupas, bisa politik, ekonomi, sosial, sepakbola, GP maupun topik-topik hangat lainnya.
Melalui momen seperti ini, kami mendapatkan banyak hal, sahabat, kerabat, pengalaman, kisah dan hikmah baru. Jujur, terkadang momen-momen seperti inilah yang membuat saya iri dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Lahir, tumbuh dan berkembang di lingkungan kota kecil seperti Ruteng serta beradu bersama anggota masyarakat yang terbilang cukup sibuk dengan kesibukannya masing-masing membuat saya merindukan dunia kecil seperti ini. Peradaban, perkembangan, arus migrasi, pertumbuhan penduduk dan persaingan memaksa kita tuk berpacu dengan waktu demi segumpal rupiah. Kita kemudian terlampau sibuk hingga kehilangan ruang dan jadi lupa caranya menyapa mereka yang ada di sekitar kita. Di sini, di pemandian ini, kami menemukan ruang untuk tersenyum dan berbagi dengan sesama.
Melalui setiap percakapan yang terjalin, kami menemukan banyak hal tentang kehidupan masyarakat Lendong. Di bawah cahaya nokia yang nyaris tertelan gelap, kami menemukan sisi lain warga desa Lendong. Di sinilah kami dapat saling mengenal dan dikenal masyarakat. Di antara kerlip cahaya kunang-kunang senja, kami menemukan senyuman dan kehangatan masyarakat Lendong. Pancuran air yang menyegarkan inilah yang menjadi saksi bagaimana kami merajut kebersamaan bersama masyarakat. Tiap pohon yang menjulang tegap dan kokoh di sekitar lokasi pemandian menjadi saksi bisu tentang kebersamaan yang terpahat.
Dari perjumpaan itulah kami jadi menyadari keberadaan Wae Telang sebagai ruang sekaligus saksi. Wae Telang adalah ruang sekaligus saksi akan tiap ujud doa yang didasarkan oleh setiap mereka yang saling berbagi. Ada nada syukur yang dilantunkan di sana, tak terkecuali tawar dan getirnya hari. Pada tiap pancuran Wae Telang kami mengalirkan seberkas peluh yang mungkin tak dapat terselesaikan di hari itu. Pada pancuran Wae Telang pun segenap warga menggantungkan asa tentang lahan garapannya yang mungkin belum begitu memuaskan.
Kurang lebih, seperti itulah Wae Telang.
Cerita yang ia simpan memang takkan pernah sesederhana namanya sendiri.
Bagi kami, Wae Telang akan selalu lebih dari sekadar sebuah tempat pemandian.
Wae Telang adalah sumber kehidupan; tetapi lebih dari itu ia adalah seberkas kehangatan yang terajut di penghujung senja.


Keterangan:
Tulisan ini dimuat di Harian Umum Flores Pos versi online edisi Minggu,
Selengkapnya bisa diklik di sini  Wae Telang dan Seberkas Kehangatan di Penghujung Senja
Terima Kasih Flores Pos karena telah berkenan menampilkan cacatan lepas ini. . 
Terima kasih berlimpah untuk segenap warga desa Lendong yang telah membimbing kami dalam kegiatan KKN terutama untuk Bapak Petrus Madun dan Mama Ovi. . 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...

Dureng

* Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari. Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam". Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores). Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng. Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu. Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain aka...

PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA??

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah pengalaman sederhana. Ceritanya berawal ketika di suatu siang saya mengendarakan sepeda motor ke kampus, seorang anak di kompleks saya bernyanyi dengan semangat dan penuh penghayatan. Saya pun tak sengaja menangkap sedikit penggalan lirik yang dinyanyikannya, kurang lebih seperti ini: “Pramuka, pramuka raja rimba. . Marinir, marinir raja laut. . Kopauss, kopasus raja di udara. . PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” Tentu mayoritas orang sangat mengenal lagu ini; dan bisa dibilang lagu ini merupakan salah satu lagu anak yang hampir-hampir tak lekang oleh zaman. Kita yang sewaktu kecil mengikuti kegiatan pramuka tentu akrab dengan lagu ini, kita pasti dapat menyanyikan tiap baris dan bait liriknya dengan baik; kalaupun tidak terlibat dalam kegiatan pramuka, saya yakin paling tidak kita pernah mendengarnya. Yang membuat saya merasa tertarik ialah   penggalan lirik pada bagian terakhir yang berbunyi “PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” ...