*
Hawa dingin menerobos ke sela-sela tenda darurat. Meski sudah mengenakan kain dan beberapa selimut, tetap saja ia berhasil menerobos masuk dan memaksa kami mempererat pelukan pada selimut.
Waso selalu dingin seperti biasanya; seperti kemarin, dua hari lalu, minggu lalu, bulan lalu. Kali ini nuansa berbeda menjadikannya lebih beku dari hari-hari terdahulu. Ini malam ke tiga kami tidur dalam tenda, ditemani cahaya senter.
Di tengah cuaca yang nyaris beku, tiap keluarga membangun kehangatan di balik tenda kecilnya masing-masing. Merajut kembali makna kebersamaan; yang telah sekian lama membelah dirinya entah karena tuntutan pekerjaan maupun oleh modernitas.
Kini banyak orang hidup di tenda darurat yang dibangun secara swadaya. Rumah-rumah runtuh; ada yang terlihat tak runtuh namun sudah tak dapat ditempati lagi karena mengalami keretakan pada tiap sudutnya.
Rumah tak lagi menjadi sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan. Ia kini menjelma menjadi sumber luka dan ketakutan. Tiap sudutnya dalam seketika bisa menjadi pencabut nyawamu.
Hasil karya yang dibangun oleh keringat, darah, dan air mata menguap seketika -Ya Allah, semoga ini hanya mimpi!- Korban yang mengalami kerusakan kemudian dikuatkan oleh kalimat yang terdengar basi: yang penting jiwa dan raga masih selamat. Kita akan memulai yang baru!
Berbagai laporan dan informasi tentang gempa membuka pemahaman baru bahwa kita hidup di area gunung aktif dan wilayah berpeluang gempa tinggi. Karenanya penting untuk merefleksikan kembali cara kita membangun hunian dan membaca gejala-gejala alam sebelum bencana alam terjadi.
**
Hari ini cukup "tenang" karena intensitas susulan getaran sepertinya mengecil. Mungkin karena itulah malam terasa lebih hening dari kemarin.
Apakah orang-orang di sekitar benar-benar sedang terlelap setelah sekian hari bertarung dengan alam dan perang psikis yang begitu menyiksa? Ataukah mereka tetap terjaga dalam mode lowbat-nya!?
Pada masa-masa seperi ini, waktu seperti berjalan lebih lambat dari biasanya. Setiap detik terasa bagai perang kecemasan dan keputusasaan yang tiada usai. Tiap kita tak tahu, kapan gempa akan kembali mengguncang.
Mata saya tidak juga terpejam meski senter yang menemani malam dingin kami kini perlahan mulai meredup. Toh, apalah artinya memejamkan mata jika sayap pikiranmu melalang buana entah ke mana!?
Saya memandangi ke sekitar tenda. Cino dan mamanya terlihat begitu pulas (dan mareng dengan nada do tinggi). Syukur pada Tuhan, malam ini mereka bisa terlelap. Belakangan, seperti kebanyakan orang, kami pun telah lupa caranya tidur.
Semenjak gempa berkekuatan 7,7 melanda pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026, kehidupan kami tidak lagi sama. Sejak hari itu awan kelam menyelimuti langit hari-hari kami. Dan kami pun tak tahu kapan ini akan berakhir.
Malam menjadi ruang dan waktu yang paling menakutkan. Dalam kegelapan kami berharap semoga pagi segera menjelang. Kegelapan dan gelap membuat kami merindukan datangnya hari-hari yang terang dan cerah.
Setiap suara bising atau angin yang bergerak, entah bagaimana telah membuat kami secara refleks melarikan diri ke area terbuka. Ketakutan telah mengalir dalam diri kami; menjadi bagian yang tak terelakkan.
Sebagai seorang ayah, betapa hancur perasaan melihat ketakutan dalam air mata istri dan anak. Mama Cino seringkali menangis tiap kali guncangan hebat datang.
Anak kami Cino pun demikian. Ia telah mengalami trauma. Sesekali, secara tiba-tiba ia akan menutup mata dengan kedua tangan kecilnya, atau secara tiba-tiba berlari lalu membenamkan wajahnya ke pelukan kami sambil berbisik, "Papa, takuttt!!!"
***
Gempa mengguncang daratan pulau tercinta, juga menghantam sisi terawan dalam kehidupan kita; ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan. Kini kami berpijak di atas puing-puing keberanian yang kian rapuh.
Selama ini, kami menyaksikan ada begitu banyak tayangan dan berita tentang bencana alam. Setelah mengalami secara langsung, kini kami jadi mengerti, betapa mengerikannya ketakutan dan keputusasaan yang menyertainya.
Kepanikan, kecemasan, ketakutan, keputusasaan, tekanan, dan perang psikis menjadikan manusia membangkitkan sisi mekanisme pertahanan dirinya yang paling brutal. Kemarin, seorang teman yang menjadi relawan membagikan postingan tentang bantuan yang dihadang di tengah jalan.
Beras setengah ton mereka diambil secara paksa oleh sekelompok orang. Hal itu membuat mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan dan mendistribusikan bantuan ke titik posko bencana yang hendak dituju.
Ketakutan dan keputusasaan telah merampas batasan moral manusia. Pada titik ini tak ada lagi ruang hitam putih. Momen ini membuat kita merefleksikan kehidupan dan membuat kita mesti melihat dunia dari kacamata yang beraneka warna; mereka hanyalah orang-orang yang sedang bertarung demi orang-orang terhebatnya; memastikan orang-orang tercinta tetap aman dan nyaman.
Persediaan makanan mereka menipis, seperti orang-orang di luar sana, juga seperti keluarga kecil kami. Seiring persediaan yang menipis, tiap orang pelan-pelan menjadi serigala bagi sesamanya.
Di hadapan kita terbentang kabut gelap yang tebal; yang entah kapan akan berlalu. Dalam langkah tertatih, kita mendapati diri sebagai pribadi yang rapuh dan tak berarti di hadapan semesta.
Semoga asa kita terus menyala, meski cuma sejauh sejengkal cahaya.
Semoga badai ini segera berlalu!
Ruteng, 21 Agustus 2026
Hawa dingin menerobos ke sela-sela tenda darurat. Meski sudah mengenakan kain dan beberapa selimut, tetap saja ia berhasil menerobos masuk dan memaksa kami mempererat pelukan pada selimut.
Waso selalu dingin seperti biasanya; seperti kemarin, dua hari lalu, minggu lalu, bulan lalu. Kali ini nuansa berbeda menjadikannya lebih beku dari hari-hari terdahulu. Ini malam ke tiga kami tidur dalam tenda, ditemani cahaya senter.
Di tengah cuaca yang nyaris beku, tiap keluarga membangun kehangatan di balik tenda kecilnya masing-masing. Merajut kembali makna kebersamaan; yang telah sekian lama membelah dirinya entah karena tuntutan pekerjaan maupun oleh modernitas.
Kini banyak orang hidup di tenda darurat yang dibangun secara swadaya. Rumah-rumah runtuh; ada yang terlihat tak runtuh namun sudah tak dapat ditempati lagi karena mengalami keretakan pada tiap sudutnya.
Rumah tak lagi menjadi sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan. Ia kini menjelma menjadi sumber luka dan ketakutan. Tiap sudutnya dalam seketika bisa menjadi pencabut nyawamu.
Hasil karya yang dibangun oleh keringat, darah, dan air mata menguap seketika -Ya Allah, semoga ini hanya mimpi!- Korban yang mengalami kerusakan kemudian dikuatkan oleh kalimat yang terdengar basi: yang penting jiwa dan raga masih selamat. Kita akan memulai yang baru!
Berbagai laporan dan informasi tentang gempa membuka pemahaman baru bahwa kita hidup di area gunung aktif dan wilayah berpeluang gempa tinggi. Karenanya penting untuk merefleksikan kembali cara kita membangun hunian dan membaca gejala-gejala alam sebelum bencana alam terjadi.
**
Hari ini cukup "tenang" karena intensitas susulan getaran sepertinya mengecil. Mungkin karena itulah malam terasa lebih hening dari kemarin.
Apakah orang-orang di sekitar benar-benar sedang terlelap setelah sekian hari bertarung dengan alam dan perang psikis yang begitu menyiksa? Ataukah mereka tetap terjaga dalam mode lowbat-nya!?
Pada masa-masa seperi ini, waktu seperti berjalan lebih lambat dari biasanya. Setiap detik terasa bagai perang kecemasan dan keputusasaan yang tiada usai. Tiap kita tak tahu, kapan gempa akan kembali mengguncang.
Mata saya tidak juga terpejam meski senter yang menemani malam dingin kami kini perlahan mulai meredup. Toh, apalah artinya memejamkan mata jika sayap pikiranmu melalang buana entah ke mana!?
Saya memandangi ke sekitar tenda. Cino dan mamanya terlihat begitu pulas (dan mareng dengan nada do tinggi). Syukur pada Tuhan, malam ini mereka bisa terlelap. Belakangan, seperti kebanyakan orang, kami pun telah lupa caranya tidur.
Semenjak gempa berkekuatan 7,7 melanda pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026, kehidupan kami tidak lagi sama. Sejak hari itu awan kelam menyelimuti langit hari-hari kami. Dan kami pun tak tahu kapan ini akan berakhir.
Malam menjadi ruang dan waktu yang paling menakutkan. Dalam kegelapan kami berharap semoga pagi segera menjelang. Kegelapan dan gelap membuat kami merindukan datangnya hari-hari yang terang dan cerah.
Setiap suara bising atau angin yang bergerak, entah bagaimana telah membuat kami secara refleks melarikan diri ke area terbuka. Ketakutan telah mengalir dalam diri kami; menjadi bagian yang tak terelakkan.
Sebagai seorang ayah, betapa hancur perasaan melihat ketakutan dalam air mata istri dan anak. Mama Cino seringkali menangis tiap kali guncangan hebat datang.
Anak kami Cino pun demikian. Ia telah mengalami trauma. Sesekali, secara tiba-tiba ia akan menutup mata dengan kedua tangan kecilnya, atau secara tiba-tiba berlari lalu membenamkan wajahnya ke pelukan kami sambil berbisik, "Papa, takuttt!!!"
***
Gempa mengguncang daratan pulau tercinta, juga menghantam sisi terawan dalam kehidupan kita; ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan. Kini kami berpijak di atas puing-puing keberanian yang kian rapuh.
Selama ini, kami menyaksikan ada begitu banyak tayangan dan berita tentang bencana alam. Setelah mengalami secara langsung, kini kami jadi mengerti, betapa mengerikannya ketakutan dan keputusasaan yang menyertainya.
Kepanikan, kecemasan, ketakutan, keputusasaan, tekanan, dan perang psikis menjadikan manusia membangkitkan sisi mekanisme pertahanan dirinya yang paling brutal. Kemarin, seorang teman yang menjadi relawan membagikan postingan tentang bantuan yang dihadang di tengah jalan.
Beras setengah ton mereka diambil secara paksa oleh sekelompok orang. Hal itu membuat mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan dan mendistribusikan bantuan ke titik posko bencana yang hendak dituju.
Ketakutan dan keputusasaan telah merampas batasan moral manusia. Pada titik ini tak ada lagi ruang hitam putih. Momen ini membuat kita merefleksikan kehidupan dan membuat kita mesti melihat dunia dari kacamata yang beraneka warna; mereka hanyalah orang-orang yang sedang bertarung demi orang-orang terhebatnya; memastikan orang-orang tercinta tetap aman dan nyaman.
Persediaan makanan mereka menipis, seperti orang-orang di luar sana, juga seperti keluarga kecil kami. Seiring persediaan yang menipis, tiap orang pelan-pelan menjadi serigala bagi sesamanya.
Di hadapan kita terbentang kabut gelap yang tebal; yang entah kapan akan berlalu. Dalam langkah tertatih, kita mendapati diri sebagai pribadi yang rapuh dan tak berarti di hadapan semesta.
Semoga asa kita terus menyala, meski cuma sejauh sejengkal cahaya.
Semoga badai ini segera berlalu!
Ruteng, 21 Agustus 2026

Komentar
Posting Komentar