Pagi ini saya mengantar Cino ke Opa dan Omanya di Pitak. Semenjak mamanya bekerja, ia kami titipkan di rumah Opa Oma di Pitak. Biasanya kami mengantarnya pada pukul 07.00 lalu menjemputnya saat pulang sekolah.
Seperti biasa, seperti pagi-pagi sebelumya, Oma Din dan Opa Roda (Romanus Dasur) sibuk dengan banyak hal. Mereka selalu bangun pagi sekali lalu mengurus kerjaan-kerjaan yang seperti tidak pernah ada habisnya. Kalau bangun kesiangan berarti mereka sedang sakit.
Pagi ini, Oma Din terlihat sedang menyapu pekarangan rumah. Sementara Opa Roda sedang merawat sayur di kebun kecilnya. Melihat kami datang, mereka melepaskan kerjaannya dan menyambut cucu kecilnya dengan sukacita.
Sudah sekitar lima tahun lebih Pa Roda pensiun. Ia menghabiskan masa pensiunnya dengan memelihara sayur dan beternak babi. Sayur-sayur itu untuk konsumsi rumah tangga, buah tangan bagi keluarga yang berkunjung, juga untuk dijual kepada tetangga maupun orang-orang di Facebook.
Dulu, saat ia masih aktif sebagai seorang staf pada lembaga badan keuangan kabupaten Manggarai, ia juga memelihara ayam pedaging. Saat itu gajinya lumayan, namun biaya rumah tangga yang sangat tinggi memaksanya memutar otak untuk mencari sumber pendapatan yang lain.
Kami delapan bersaudara. Saat itu, kakak sulung kami, Mama Gio sudah menikah dan menetap di Iteng. Kami bertiga (saya, Densi, dan Exel) sedang kuliah dan tiga orang adik kami yang lain (Geri, Itak, dan Avi) sedang berada di bangku pendidikan dasar (SD, SMP, dan SMA).
Gaji bulanan saja tentu tidak cukup untuk pemenuhan tuntutan ekonomi, pendidikan, dan biaya hidup sosial bermasyarakat. Di tengah pertarungan dunia yang kian brengsek, kami banyak dibantu oleh penjualan sayur, babi, dan ayam pedaging.
Dulu pada sela-sela waktu kuliah, saya sering membantu mengambil pakan ternak di kebun, menyiapkan makanan babi, dan membersihkan kandang. Selain itu, saya juga bertugas membawa ayam kami ke salah satu pelanggan utama kami yakni baba Pade Doang. Ayam-ayam yang lain biasanya dijual ke teman kantor ayah saya. Sayur-sayur pun demikian.
Sekarang, Pa Roda hanya memelihara sayur dan beternak babi. Entah mengapa, sejak kami bertiga menyelesaikan kuliah, usaha ayam pedaging kami lebih banyak ruginya. Selain itu, pasaran ayam pedaging Ruteng kalah jauh dengan ayam pedaging yang didatangkan dari Bajawa. Karena itu ia memutuskan untuk berhenti beternak ayam pedaging.
Kini, adik kami Geri yang lebih banyak membantunya mengurus bagian pakan babi. Sesekali kalau Exel pulang dari Borong, ia juga membantu mengambil pakan ternak di kebun kami. Sementara untuk tugas menyiram sayur, Pa Roda banyak dibantu oleh Itak, Avi, dan Karlo.
Tak terasa adik Geri telah menyelesaikan kuliahnya dan saat ini sedang menunggu waktu wisuda. Syukur pada Tuhan, ia sudah bekerja pada salah satu tempat makan di kota Ruteng. Adik kami yang lain: Itak sedang berkuliah, Avi di bangku SMA, dan Lobet duduk di bangku SMP. Semoga kami semua tetap sehat dan dapat terus mewujudkan cita-cita kami.
Demikianlah, ayam, sayur, dan babi telah banyak membantu keluarga kami. Kami bersyukur, lima orang telah menyelesaikan pendidikan sarjananya. Semoga sayur dan ternak kami terus memberikan hasil yang baik agar roda kehidupan terus berjalan dengan baik.
Di Manggarai, banyak orang seperti keluarga kami, mereka telah menyelesaikan pendidikannya karena usaha sayur orang tuanya. Banyak orang menjadi "orang" berkat usaha ternak babi orang tuanya. Yah, meski tak sedikit juga orang yang bertingkah laku macam babi di bangku sekolah, padahal orang tuanya setengah mati banting tulang dan beternak babi demi kesuksesan pendidikan anaknya.
Kita -seperti kata Pramoedya- mesti berterima kasih pada segala yang memberi kehidupan dan membantu kita mewujudkan cita-cita, termasuk pada sayur dan babi. Banyak mimpi dan harapan yang terwujud karena menanam sayur dan beternak babi.
Allah telah menganugerahi kita tanah Manggarai, tanah yang kaya dan subur. Asalkan kita "gejur" dan "neka toko bail wa loce", insyaallah hidup kita akan berkecukupan. Usaha sayur dan ternak babi ialah salah satu alternatif jalan ninja yang memungkinkan asap dapur kita tetap mengepul, juga nyala api mimpi-mimpi kita tetap terjaga.
Ruteng, 29 September 2026
Seperti biasa, seperti pagi-pagi sebelumya, Oma Din dan Opa Roda (Romanus Dasur) sibuk dengan banyak hal. Mereka selalu bangun pagi sekali lalu mengurus kerjaan-kerjaan yang seperti tidak pernah ada habisnya. Kalau bangun kesiangan berarti mereka sedang sakit.
Pagi ini, Oma Din terlihat sedang menyapu pekarangan rumah. Sementara Opa Roda sedang merawat sayur di kebun kecilnya. Melihat kami datang, mereka melepaskan kerjaannya dan menyambut cucu kecilnya dengan sukacita.
Sudah sekitar lima tahun lebih Pa Roda pensiun. Ia menghabiskan masa pensiunnya dengan memelihara sayur dan beternak babi. Sayur-sayur itu untuk konsumsi rumah tangga, buah tangan bagi keluarga yang berkunjung, juga untuk dijual kepada tetangga maupun orang-orang di Facebook.
Dulu, saat ia masih aktif sebagai seorang staf pada lembaga badan keuangan kabupaten Manggarai, ia juga memelihara ayam pedaging. Saat itu gajinya lumayan, namun biaya rumah tangga yang sangat tinggi memaksanya memutar otak untuk mencari sumber pendapatan yang lain.
Kami delapan bersaudara. Saat itu, kakak sulung kami, Mama Gio sudah menikah dan menetap di Iteng. Kami bertiga (saya, Densi, dan Exel) sedang kuliah dan tiga orang adik kami yang lain (Geri, Itak, dan Avi) sedang berada di bangku pendidikan dasar (SD, SMP, dan SMA).
Gaji bulanan saja tentu tidak cukup untuk pemenuhan tuntutan ekonomi, pendidikan, dan biaya hidup sosial bermasyarakat. Di tengah pertarungan dunia yang kian brengsek, kami banyak dibantu oleh penjualan sayur, babi, dan ayam pedaging.
Dulu pada sela-sela waktu kuliah, saya sering membantu mengambil pakan ternak di kebun, menyiapkan makanan babi, dan membersihkan kandang. Selain itu, saya juga bertugas membawa ayam kami ke salah satu pelanggan utama kami yakni baba Pade Doang. Ayam-ayam yang lain biasanya dijual ke teman kantor ayah saya. Sayur-sayur pun demikian.
Sekarang, Pa Roda hanya memelihara sayur dan beternak babi. Entah mengapa, sejak kami bertiga menyelesaikan kuliah, usaha ayam pedaging kami lebih banyak ruginya. Selain itu, pasaran ayam pedaging Ruteng kalah jauh dengan ayam pedaging yang didatangkan dari Bajawa. Karena itu ia memutuskan untuk berhenti beternak ayam pedaging.
Kini, adik kami Geri yang lebih banyak membantunya mengurus bagian pakan babi. Sesekali kalau Exel pulang dari Borong, ia juga membantu mengambil pakan ternak di kebun kami. Sementara untuk tugas menyiram sayur, Pa Roda banyak dibantu oleh Itak, Avi, dan Karlo.
Tak terasa adik Geri telah menyelesaikan kuliahnya dan saat ini sedang menunggu waktu wisuda. Syukur pada Tuhan, ia sudah bekerja pada salah satu tempat makan di kota Ruteng. Adik kami yang lain: Itak sedang berkuliah, Avi di bangku SMA, dan Lobet duduk di bangku SMP. Semoga kami semua tetap sehat dan dapat terus mewujudkan cita-cita kami.
Demikianlah, ayam, sayur, dan babi telah banyak membantu keluarga kami. Kami bersyukur, lima orang telah menyelesaikan pendidikan sarjananya. Semoga sayur dan ternak kami terus memberikan hasil yang baik agar roda kehidupan terus berjalan dengan baik.
Di Manggarai, banyak orang seperti keluarga kami, mereka telah menyelesaikan pendidikannya karena usaha sayur orang tuanya. Banyak orang menjadi "orang" berkat usaha ternak babi orang tuanya. Yah, meski tak sedikit juga orang yang bertingkah laku macam babi di bangku sekolah, padahal orang tuanya setengah mati banting tulang dan beternak babi demi kesuksesan pendidikan anaknya.
Kita -seperti kata Pramoedya- mesti berterima kasih pada segala yang memberi kehidupan dan membantu kita mewujudkan cita-cita, termasuk pada sayur dan babi. Banyak mimpi dan harapan yang terwujud karena menanam sayur dan beternak babi.
Allah telah menganugerahi kita tanah Manggarai, tanah yang kaya dan subur. Asalkan kita "gejur" dan "neka toko bail wa loce", insyaallah hidup kita akan berkecukupan. Usaha sayur dan ternak babi ialah salah satu alternatif jalan ninja yang memungkinkan asap dapur kita tetap mengepul, juga nyala api mimpi-mimpi kita tetap terjaga.
Ruteng, 29 September 2026

Komentar
Posting Komentar