Langsung ke konten utama

Swallow; Sandal Nyaman Sejuta Umat

Swallow merupakan salah satu merek sandal yang merakyat. Ia dipakai dan dicintai oleh banyak kalangan, terutama sebagian besar golongan masyarakat yang oleh standar sosial dan standar ekonomi dianggap sebagai golongan kelas menengah ke bawah. Ia merupakan sandal legend yang menembus batas-batas sosial, gender, agama, suku, maupun generasi.
Kita mungkin berbeda soal pandangan politik, soal selera makanan, soal musik kesukaan, soal klub kesukaan, soal cara memandang masalah, soal kriteria memilih pasangan; namun kita sepertinya sepakat: Swallow memang terasa nyaman di kaki. Perasaan nyaman di kaki itulah yang membuat Swallow dicintai banyak golongan.
Swallow biasanya dipakai dalam banyak aktivitas, semisal: pigi sembahyang rosario, pigi pasar, pigi masjid, pigi kebun, atau pun pigi ke rumahnya teman. Oh ia ngomong-ngomong, untuk kegiatan sembahyang rosario dan sembahyang di masjid sebaiknya pakai Swallow; kalau Anda tetap ngotot pake merek yang terbilang mahal dan dianggap gaul, maka sebaiknya Anda harus siap mengucapkan salam perpisahan dengan sandal Anda.
Ketika berbagai tipe dan varian sandal datang dan pergi dalam dunia persandalan Indonesia, Swallow seolah menjadi salah satu merek dagang yang tetap eksis dan tak lekang oleh waktu. Dalam kesederhaannya, ia tetap berdiri tegap dan tak tersapu arus waktu; seperti terlanjur menyatu bersama keseharian masyarakat Indonesia. Orang Indonesia, semacam terlanjur sayang dengan Swallow. Bisa dibilang: NKRI harga mati, Pancasila harga mati, Swallow sampai mati.
Darwin, bapak teori evolusi pernah mengatakan: yang bertahan bukanlah spesies yang kuat, namun yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dalam konteks pertarungan pasar, teori ini kurang lebih berbunyi: merek yang bertahan ialah merek yang terus berevolusi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan zaman.
Swallow, dalam konteks ini menjadi semacam suatu antitesis. Seiring perkembangan zaman dan revolusi mode, banyak merek sandal yang berlomba-lomba dan berevolusi guna menjaga denyut nadinya di kancah persandalan Indonesia.
Beberapa di antaranya memang berhasil berevolusi dan laris manis, namun beberapa yang lain kandas di hadapan Swallow yang begitu-begitu saja. Merek yang berhasil dalam proses evolusi pun tak serta merta menggeser posisi Swallow dari status sandal sejuta umat. Swallow tidak banyak menyibukkan dirinya dengan evolusi dan perubahan.
Di tengah pertarungan pasar, ia tetap berdiri kokoh dengan model yang tidak banyak berubah, konsisten, pokoknya begitu-begitu saja dari dulu. Secara filosofis, Swallow telah mengajarkan tentang pentingnya konsistensi dan menjadi diri sendiri.
Sesekali Swallow memang pernah meluncurkan variannya yang lebih trendy dan stylisth, namun yang paling diingat dan terlanjur melekat ialah varian Swallow dengan warna dasar putih dengan pilihan warna tali yang berwarna-warni. Dengan bagian alas yang berwarna putih, talinya bisa berwarna merah, biru, kuning, hijau, ungu, macam-macam. Saya termasuk golongan fans garis keras Swallow biru.
Secara semiotik, kecenderungan warna favorite dan kondisi Swallow seseorang bisa menjadi semacam suatu barometer untuk mengenal kepribadian dan karakter seseorang. Barangkali ini terdengar berlebihan; namun konon, kecenderungan seseorang menyukai sebuah warna bisa mencerminkan kecenderungan kepribadiannya.
Setiap warna yang disukai dipercaya memberikan gambaran tentang sifat atau kepribadian tertentu. Warna merah misalnya, ia mencerminkan keberanian, kekuatan, dan semangat yang menyala-nyala; warna biru mencerminkan jiwa yang menyukai keakraban dan rasa aman; warna kuning menggambarkan keceriaan, bahagia, energik, maupun pribadi pencemburu. Demikian pun halnya dengan warna-warna lain.
Selain warna, kondisi Swallow yang kita pakai juga bisa mencerminkan karakter kita. Jika swallow yang biasa kita kenakan kotor dan tidak terurus, maka bisa jadi hal tersebut menggambarkan karakter kita yang kemomos, tidak rapi, malas tahu. Cara kita menjaga dan merawat barang-barang kan menggambarkan kepribadiannya kita to?
Berbicara mengenai Swallow, saya memiliki sebuah pengalaman yang membuka tirai pikiran dan mengubah cara pandang saya. Pada suatu pagi yang cerah, seorang anggota koperasi sedang antre di kantor kami. Ia mengenakan celana pendek dan Swallow hijau yang lusuh. Ia kelihatan seperti orang yang biasa-biasa saja, meski sebetulnya saya tahu ia anggota aktif yang punya modal dan simpanan yang besar. Anggota itu tak seperti yang terlihat. Banyak hal memang tak seperti yang terlihat; namun kita seringkali memilih untuk menilai segala sesuatu hanya dari apa yang terlihat.
Tak banyak orang seperti anggota tadi; bisa PD dan nyaman di sebuah tempat umum, apalagi di sebuah kantor dengan sandal Swallow. Anggota tersebut tampak enjoy dan malas tahu dengan apa yang ia kenakan, termasuk dengan keadaan di sekitarnya.
Beberapa orang di tempat umum terkadang terlihat gelisah dan kehilangan kepercayaan diri karena perasaan kurang nyaman dengan apa yang mereka kenakan. Saya pun sering terjebak dengan situasi semacam ini.
Dalam banyak hal, saya, barangkali para pembaca sekalian; sering risau dengan apa yang kita kenakan di suatu tempat umum. Kita sering mengenakan sandal, sepatu, celana, jaket, tas, aksesoris, ataupun bahan kosmetik (bagi perempuan) yang baik dan secara ekonomi terbilang cukup mahal, namun seringkali belum sepenuhnya merasa nyaman dan PD.
Kita seringkali kurang nyaman dan kehilangan kepercayaan diri dengan apa yang kita kenakan. Menjadi nyaman dengan segala hal tentang diri sendiri itu penting; dan ternyata hal tersebut bukanlah sebuah perkara mudah!
Perasaan kurang nyaman di sebuah tempat umum muncul karena kita masih terjebak dengan pikiran tentang: bagaimana cara orang memandang kita dengan apa yang kita kenakan, sibuk dengan membayangkan apa yang orang pikirkan tentang kita. Kita lupa; orang-orang di sekitar kita sebetulnya sama sekali tidak peduli dengan kita.
Kehidupan kita pun terkadang seperti pikiran tentang Swallow. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, kita seringkali berburuk sangka dan berpikir orang lain di sekitar kita sibuk membicarakan segala hal tentang kita.
Akibatnya kita hidup dalam curiga dan prasangka buruk tentang orang-orang di sekitar kita; kehidupan pun menjadi disharmonis dan rumit karenanya. Please, stop merasa diri penting. Kita hanyalah setitik debu di alam semesta! Orang-orang terlalu sibuk untuk menyibukkan diri dengan segala hal yang sama sekali tidak penting tentang kita.
Di akhir kata, saya cuma mau bilang: semoga ada setitik hal baik yang Anda petik dari tulisan yang tidak berbobot ini. Jaga baik-baik Anda punya sandal!*

*Tulisan ini telah dimuat di Ngkiong edisi 12 Agustus 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...

Dureng

* Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari. Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam". Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores). Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng. Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu. Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain aka...

PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA??

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah pengalaman sederhana. Ceritanya berawal ketika di suatu siang saya mengendarakan sepeda motor ke kampus, seorang anak di kompleks saya bernyanyi dengan semangat dan penuh penghayatan. Saya pun tak sengaja menangkap sedikit penggalan lirik yang dinyanyikannya, kurang lebih seperti ini: “Pramuka, pramuka raja rimba. . Marinir, marinir raja laut. . Kopauss, kopasus raja di udara. . PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” Tentu mayoritas orang sangat mengenal lagu ini; dan bisa dibilang lagu ini merupakan salah satu lagu anak yang hampir-hampir tak lekang oleh zaman. Kita yang sewaktu kecil mengikuti kegiatan pramuka tentu akrab dengan lagu ini, kita pasti dapat menyanyikan tiap baris dan bait liriknya dengan baik; kalaupun tidak terlibat dalam kegiatan pramuka, saya yakin paling tidak kita pernah mendengarnya. Yang membuat saya merasa tertarik ialah   penggalan lirik pada bagian terakhir yang berbunyi “PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” ...