Langsung ke konten utama

Love Yourself

Pagi ini saya mendapatkan sebuah video pendek. Video di atas saya dapatkan pada story WA seorang teman. Sebut saja namanya Bunga. Video ini terkesan sangat sederhana, tapi sebetulnya sangat penting. Minimal bagi si Bunga yang share di story WA dan bagi diri saya sendiri.
Dalam video berdurasi 15 detik tersebut: seorang bocah meminta kita yang menyaksikan video tersebut untuk menyebutkan tiga nama yang paling kita cintai dalam waktu lima detik. Saya menghentikan video lalu dengan cepat menyebutkan beberapa nama. Bukan hanya tiga nama seperti yang ia minta, tetapi enam atau tujuh nama.
Setelah lima detik berlalu ia menebak bahwa: saya atau siapa pun yang mengikuti instruksi pada video tersebut pasti tidak menyebut nama diri sendiri. Saya tersentak karena seperti tebakan si bocah botak dalam video: pada tiga nama awal yang saya sebutkan, saya tidak menyertakan nama saya sendiri. Saya pun tidak menyebutkan nama saya sendri pada urutan ke empat sampai ke urutan yang terakhir.
Saya tidak tahu, seandainya saya harus menyebutkan sepuluh nama; apakah saya akan menyebutkan nama saya atau tidak. Pada bagian akhir video, si bocah botak berpesan: pada tempat yang pertama, cintailah dirimu sendiri!
Bagi saya, video pendek berdurasi 15 detik ini penting. Ia membawa saya pada refleksi panjang sekaligus memberikan pengaruh yang besar terhadap cara pandang saya.
Lima detik yang diberikan si bocah botak itu waktu yang sempit. Dalam lima detik, jawaban spontan yang kita berikan merupakan representasi pikiran dan alam bawah sadar kita.
Apa yang kita pikirkan dan apa yang ada dalam alam bawah sadar kita, entah disadari atau tidak sebetulnya sangat mempengaruhi bagaimana cara kita menjalani hidup. Ingat, mayoritas keputusan dan tingkah laku yang kita buat dalam kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh persepsi dan hal-hal yang ada pada alam bawah sadar kita.
Dengan kata lain: jawaban yang telah saya berikan menjadi semacam suatu proyeksi tentang bagaimana cara saya memperlakukan diri sendiri dan orang lain. Jawaban terhadap pertanyaan yang terasa begitu remeh dan tidak penting rupanya menjadi gerbang yang membawa saya masuk ke dalam bangunan alam bawah sadar saya.
Saya jadi ingat, saya adalah tipe orang yang tidak enakan dengan orang lain. Hal ini memberikan dampak yang buruk pada diri saya. Pada banyak situasi, saya seringkali mengalah dan mengikuti apa pun yang dikehendaki orang lain hanya karena perasaan “tidak enak”.
Dalam banyak situasi saya sangat sulit untuk mengatakan tidak, meskipun untuk sesuatu yang tidak saya sukai. Efeknya saya kerap kali menerima atau melakukan sesuatu dengan perasaan tersiksa hanya agar orang lain merasa senang. Banyak hal yang saya lakukan dengan perasaan dongkol, dengan rasa tidak nyaman hanya karena alasan “tidak enak” tadi.
Tidak enakan dengan orang lain lalu menyiksa diri sendiri merupakan contoh bahwa saya (baca: kita) tidak mencintai diri sendiri. Saya (dan mungkin pembaca) seringkali sulit sekali untuk bilang tidak. Iya to?
Saya juga seringkali mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan sendiri. Dalam konteks tertentu, hal ini baik adanya. Namun dalam banyak konteks, hal ini justru membuat saya kewalahan dan kesulitan sendiri. Saya kerap kali mengabaikan kepentingan sendiri demi kepentingan orang lain. Akibatnya kepentingan orang lain sukses, sementara kepentingan saya sendiri terkadang terabaikan.
Hal ini juga kerap berlaku ketika seseorang meminta bantuan yang saya tahu sulit saya lakukan. Ada beberapa jenis bantuan yang terpaksa saya lakukan karena perasaan tidak enak dan takut orang lain kecewa. Efeknya, saya capeh dan tersiksa sendiri.
Saja juga seringkali mengambil keputusan yang membuat orang-orang yang saya cintai bahagia, yang mana hal tersebut belum tentu sesuai dengan apa yang ada dalam lubuk hati saya. Kita memilih sebuah keputusan yang sangat bertolak belakang dengan pilihan sendiri, hanya agar orang lain tidak kecewa.
Dalam banyak hal, kita terlampau sering mengutamakan perasaannya orang lain dan mengabaikan perasaan sendiri. Kalau dipikir-pikir juga, belum tentu orang lain berpikir tentang kita.
Saya berharap semoga ke depannya, saya bisa lebih mencintai diri sendiri dengan menghindari diri dari perasaan-perasaan tidak enak dan berani mengatakan “tidak”, berani melawan perasaan “tidak enak”. Amin!

Ruteng, 12 Agustus 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...

Dureng

* Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari. Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam". Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores). Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng. Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu. Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain aka...

Garis Waktu

Waktu terus bergulir. Tak terasa putra kami Cino kini berusia 19 bulan. Kami bersyukur karena pada usia sekarang, ada begitu banyak perkembangan dan hal-hal baik yang sudah bisa ia lakukan. Semoga seiring waktu ia terus bertumbuh dan berkembang lebih baik. Berbicara mengenai tumbuh kembang anak, menjadi orang tua membuat saya memiliki suatu ketakutan baru. Saya selalu takut ketika anak kami tidak kunjung mencapai suatu tahap perkembangan tertentu. Pada malam menjelang tidur saya selalu merenungkan banyak hal. Terkait tumbuh kembang anak, akan ada banyak pertanyaan yang berputar di kepala: apakah anak kami sudah berkembang sesuai dengan perkembangan anak-anak seusianya? Apakah ia sudah bisa melakukan hal-hal yang seyogyanya harus bisa dilakukan sesuai tingkatan usianya? Kenapa anak kami tidak kunjung bisa berjalan padahal anak seusianya sudah bisa berjalan?, dan lain sebagainya. Selalu ada kecemasan luar biasa di dalam diri, manakala pada usia tertentu masih ada hal yang belum bi...