Langsung ke konten utama

Toe Manga Isung; Sebuah Basa-Basi Sosiolinguistik

Pengklasifikasian hadir dalam banyak ruang lingkup hidup masyarakat. Ia diciptakan untuk mempermudah proses identifikasi sekaligus sebagai sebuah penanda. Ada banyak instrumen yang dipakai untuk menciptakan sistem klasifikasi seperti bentuk benda, sifat, karateristik, warna, jumlah, volume, dan lain sebagainya.
Tidak terkecuali pada tubuh manusia. Berdasarkan bentuk hidungnya, manusia dibagi menjadi dua jenis: manusia berhidung mancung dan manusia berhidung pesek. Batasan mengenai mancung atau peseknya hidung seorang manusia masih bersifat abu-abu dan subjektif karena mancung didefinisikan dalam besaran yang tidak baku.
Kadang apa yang dianggap mancung oleh suatu kelompok masyarakat, bisa jadi tidak termasuk dalam kategori hidung mancung oleh kelompok masyarakat lainnya. Begitu pun sebaliknya.
Barangkali terdengar remeh, namun saya kira dalam masyarakat Manggarai, pembahasan mengenai bentuk dan penamaan hidung menjadi suatu isu serius yang perlu diangkat. Alasannya jelas, persepsi tentang hidung memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap hidup seseorang.
Sebelum berbicara lebih jauh, ada baiknya kita cerna bersama konsep penamaan hidung orang Manggarai berdasarkan bentuknya. Dalam bahasa Manggarai, hidung mancung diterjemahkan ke dalam bentuk isung mongko. Sementara, hidung pesek diterjemahkan ke dalam bentuk isung lempe.
Isung lempe menelurkan dua varian: lempe nau (pesek yang sedap dipandang) dan lempe pilat (pesek yang tidak sedap dipandang). Lempe nau ialah golongan orang pesek yang sedap dipandang. Entah apa alat ukur sedap dan tidak sedapnya.
Terkait golongan pertama, Rensi Ambang, musisi Manggarai sempat mendedikasikan sebuah lagu berjudul Lena (akronim Lempe Nau).
Lena, Lena, Lena. . Lena lempe nau!
Lena, Lena, Lena.. Lena Magdalena!
Kurang lebih demikian salah satu penggalan liriknya.
Berbicara mengenai varian yang kedua, banyak juga golongan masyarakat yang menyebutnya dengan istilah: toe manga isung. Jika kita pecahkan kontrusksi toe manga isung kita mendapati akar kata: toe (tidak), manga (memiliki, mempunyai), isung (hidung). Lempe kedua ini bersinonim dengan toe manga isung, sama dengan tidak memiliki hidung. Ia bermakna negatif.
Sebagai orang yang dianugerahi hidung minimalis, saya kira terjemahan kedua ini diam-diam menyimpan bahaya laten. Kenapa hidung yang kurang mancung dikonotasikan ke dalam bentuk: toe manga isung? Siapa tu nenek moyang pertama yang populerkan ini istilah yang bikin tersinggung ni?
Kita tahu bahasa dan pikiran ialah dua hal yang saling terkait satu sama lain. Ada istilah: language is the mirror of mind (bahasa itu cerminan pikiran). Cara masyarakat membahasakan sesuatu menggambarkan konstruksi pikiran tentang apa yang dibahasakannya. Konsep bahasa dan konstruksi pikiran yang terbangun tentang suatu hal memengaruhi cara pandang dan cara kelompok masyarakat memperlakukan konsep bahasa yang dimaksud.
Sebagai contoh, konsep bahasa (definisi/batasan) tentang perempuan dalam masyarakat patriarki akan sangat berbeda dengan masyarakat matriarki ataupun golongan masyarakat liberal. Bangunan definisi yang berbeda pada ketiga golongan masyarakat ini turut mempengaruhi bagaimana cara mereka memandang dan memperlakukan perempuan.
Kembali ke konstruksi toe manga isung; dari cara penerjemahan ini terbaca bahwa bagi orang Manggarai, hidung akan diterima sebagai sebuah hidung hanya ketika ia mancung. Dalam konteks ini, eksistensi hidung ditentukan oleh keber-mancung-annya.
Hukumnya jelas: ia mancung maka ia dianggap ada. Implikasinya, kalo sebuah organ yang menggantung di atas mulut dan berfungsi sebagai gerbang masuk udara ke dalam tubuh bentuknya kurang mancung, maka masyarakat tidak menganggapnya sebagai sebuah hidung.
Bayangkan susahnya jadi hidung yang kurang mancung; ia ada tetapi dianggap tidak ada (toe manga isung) oleh masyarakat. Orang yang punya hidung namun jika bentuknya kurang mancung, ia dianggap tidak punya hidung (toe manga isung’n).
Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang kerabat yang telah lama tak bertatap muka. Saya kaget dan malu-malu saat dia bilang:
Dee,, ho kaut tu’an gah. Agit manga isung’n danong (wah,, sekarang sudah besar. Dulu ia pesek a.k.a tak punya hidung)” katanya menggebu-gebu kepada sang suami.
Perasaan saya ketika itu campur aduk; haru, bangga, sedih, dan iba menyatu. Saya tersimpan di memorinya sebagai sosok bocah yang tak punya hidung. Organ pernapasan yang menggantung di atas mulut ini tidak diterima sebagai sebuah hidung: barangkali karena ia hanya terlihat seperti sebuah lombok tahu krispi!? Hikss..
Bangunan definisi tentang hidung dan kategorisasi yang dibentuk di tengah masyarakat memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap hidup seseorang (baca: pemilik hidung) yang mendiammaknainya. Body shiming kerap didapati oleh seseorang hanya karena warna kulit, bentuk dan ukuran anggota tubuh, termasuk bentuk hidungnya.
Saya mengenal seorang bocah yang dipanggil “pesek” oleh teman-temannya. Bocah ini sering menjadi sasaran buli. Sapaan dan perlakuan yang kerap ia terima ini tentu saja bisa mempengaruhi mental dan mengikis kepercayaan dirinya di ruang publik.
Bocah-bocah yang tumbuh dengan sapaan yang menyinggung bentuk fisik dalam lingkungan yang membuli kerap mengalami krisis kepercayaan diri. Saya menemukan banyak anak didik yang tumbuh dengan luka body shimming, entah oleh teman, lingkungan, guru, bahkan oleh orang-orang terdekatnya sendiri.
Untuk ungkapan yang “mengganggu” semacam ini, ketika seseorang tersinggung kita sering dengan enteng berkilah: baperan, kurang bergaul, mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malam, atau apalah. Saya pikir tidak sesederhana itu.
Pada orang-orang tertentu, beberapa ucapan lepas yang terkesan sederhana bisa menjadi luka yang membekas untuk waktu yang lama. Kita perlu belajar menciptakan lingkungan yang mencintai diri sendiri dan memutuskan mata rantai ini karena kepercayaan diri ialah salah satu mutiara paling mahal dalam hidup.
Dalam dunia orang dewasa, hal yang sama kerap terjadi. Tak jarang hidung menjadi salah satu tolak ukur keluarga atau teman dekat menilai pasangan seseorang. Hal ini terbaca melalui ungkapan-ungkapan berkonotasi negatif di tengah masyarakat.
Com asi agu hi enu/nana hitu. Agit manga isung’n” (Sebaiknya jangan dengan pria/wanita itu, hidungnya pesek.)
Tiba te co’on hi nana/enu hitu, ce gewek isung koen” (Untuk apa kau menerima pria/wanita itu, hidungnya cuma secuil.)
Orang-orang ini kadang lupa, secara genetik anak/kerabat mereka juga punya tipografi hidung yang kurang lebih sama (mereka punya model hidung juga kurang lebih sama) tapi mereka mendambakan pasangan sang anak/kerabat yang punya hidung macam artis India. Haloo, kalian sehat? Standar ganda dan tidak adil sekali sejak dalam pikiran!
Akhir kata, seperti apa pun bentuk dan tipografi hidungmu, syukurilah.
Selama kita masih bisa menghirup nafas kehidupan, bersukacitalah.
Ata mesen tama manga nai agu sehat, to?
Luka-luka tersembunyi dan krisis kepercayaan diri menyadarkan kita bahwa jalan penerimaan diri masih sangat panjang; kita bisa mulai menyembuhkan dan menumbuhkannya dari lingkungan kecil kita!*

*Tulisan ini telah dimuat di Ngkiong edisi 14 Agustus 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...

Dureng

* Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari. Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam". Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores). Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng. Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu. Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain aka...

PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA??

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah pengalaman sederhana. Ceritanya berawal ketika di suatu siang saya mengendarakan sepeda motor ke kampus, seorang anak di kompleks saya bernyanyi dengan semangat dan penuh penghayatan. Saya pun tak sengaja menangkap sedikit penggalan lirik yang dinyanyikannya, kurang lebih seperti ini: “Pramuka, pramuka raja rimba. . Marinir, marinir raja laut. . Kopauss, kopasus raja di udara. . PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” Tentu mayoritas orang sangat mengenal lagu ini; dan bisa dibilang lagu ini merupakan salah satu lagu anak yang hampir-hampir tak lekang oleh zaman. Kita yang sewaktu kecil mengikuti kegiatan pramuka tentu akrab dengan lagu ini, kita pasti dapat menyanyikan tiap baris dan bait liriknya dengan baik; kalaupun tidak terlibat dalam kegiatan pramuka, saya yakin paling tidak kita pernah mendengarnya. Yang membuat saya merasa tertarik ialah   penggalan lirik pada bagian terakhir yang berbunyi “PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” ...