Langsung ke konten utama

Ender Tin


Pukul 13.00 saya pulang pelayanan bulanan dari TPK (Tempat Pelayanan Kopkardios) Rama dalam kondisi lowbat dan compang camping. Semalam saya hanya tidur satu atau dua jam. Efek kopi yang saya minum kemarin sore membuat saya tetap terjaga hingga pagi. Saya bangun dalam kondisi yang berantakkan dan berangkat kerja dengan keadaan jengejiut.
Karena terburu-buru, saya pun tidak sempat sarapan. Saya jadi sadar, mengawali hari dengan senyuman saja ternyata tidak cukup, kita harus sarapan biar punya tenaga dan fit. Dalam banyak hal, pola hidup saya sangat buruk. Saya terlampau sering lupa bagaimana cara menyayangi diri sendiri melalui kebiasaan-kebiasaan yang baik dan sehat.
Lambung saya perih sekali; karena tidak sarapan dan mungkin efek kandungan zat minuman sachet -entah zat apa namanya- yang disuguhkan salah satu anggota di Rama. Dalam keadaan lelah dan lapar, Ruteng rasanya jauh sekali. Saya memacu sepeda motor dalam kecepatan tinggi; gigi lima, tarik full gas.
Dalam kecepatan tinggi, jarak antara hidup dan mati menjadi kian menipis; salah sedikit, saya bisa kecelakaan dan mati. Untunglah Tuhan menjaga saya, lagipula belakangan ruas jalan makin sepi. Meskipun sepi, tidak berarti kita bisa semberono to?
Jalanan dan kota terasa lenggang; seperti kehilangan roh dan aura kehidupannya. Pandemi menghapus banyak senyum dan membuat banyak aktivitas terhenti. Banyak roda ekonomi yang tidak berputar dan tidak bergerak. Padahal untuk tetap hidup, manusia wajib memastikan segalanya tetap berputar dan bergerak, tak peduli selambat apa perputaran dan pergerakan itu.
Saya singgah sebentar di salah satu warung; dan makan dengan sangat lahap. Pelayannya menatap saya dengan tatapan yang sedikit iba. Saya terharu, bukan karena tatapan ibanya tetapi karena pelayanannya yang sangat ramah. Ia sepertinya sangat paham, keberlangsungan usaha mereka bergantung pada banyak hal, salah satunya bergantung pada bagaimana cara mereka memperlakukan setiap pelanggan yang datang.
Dari pelayan-pelayan semacam ini saya belajar untuk menjalankan tugas saya sebagai staf divisi secara excellent. Pelanggan dan anggota adalah raja yang membuat kami tetap hidup. Bukankah setiap kita -mengutip Pram- wajib berterima kasih pada segala yang memberi kehidupan?
Saya bersyukur karena masih bisa makan. Di luar sana, di sekitar saya, atau di belahan dunia yang lain: ada banyak orang yang harus mengencangkan ikat pinggannya dan ada tambahan barisan orang yang tidak sempat mengecap makanan. Pada sepiring nasi, saya menemukan wajah Tuhan dan sekeping surga. Tuhan dan surga terkadang sesederhana itu; tak serumit dan tak seabstrak yang dikotbahkan imam-imam di televisi.
Setelah nyawa saya kembali terkumpul, saya pulang. Di sudut lapangan Motang Rua, saya mendapati sebuah pemandangan yang menarik. Di sisi barat laut, terlihat seorang ibu sedang asyik membersihkan ‘kebunnya’. Siapapun tentu tahu lapangan ini bukan miliknya, tetapi beberapa orang di kota kecil ini tahu ia mengolah beberapa meter persegi areanya menjadi sebuah kebun kecil.
Dalam banyak hal, saya kerap kali seperti ibu ini: mengklaim sesuatu yang bukan milik saya lalu di saat yang lain membantah suatu hal buruk sebagai sesuatu yang bukan milik saya. Saya sering pura-pura lupa pada pesan: “Neka daku data! Neka data daku!”
Ibu itu dikenal sebagai Ender Tin (Nder Tin). Ende dalam bahasa Manggarai berarti ibu atau mama, sedangkan akhiran -r yang melekat pada kata ende merupakan enklitik.
Enklitik itu unsur tata bahasa yang tidak berdiri sendiri dan selalu bergabung dengan kata yang mendahuluinya. Enklitik (semisal: -nya, -mu, -ku) dipakai untuk menyatakan kepemilikan. Enklitik –r pun demikian. Enlitik –r dalam bahasa Manggarai berarti ‘–nya’. Jadi Ender Tin berarti ibunya Tin atau mamanya Tin. Ibu ini merupakan ibu dari seseorang yang bernama Tin.
Ender Tin merupakan seorang wanita dewasa yang mengalami gangguan jiwa, entah sejak kapan. Siang itu, seperti kebiasaannya pada beberapa hari tertentu, ia begitu sibuk dengan aktivitas mengurus kebunnya. Ia setia menyiangi rumput, menggemburkan tanah, menanam tanaman, dan membakar rumput-rumput kering pada kebun kecilnya.
Sudah lama ia menanam jagung dan ubi jalar. Karena giat dan semangatnya, tanaman itu tumbuh dengan subur dan hijau. Ibu ini mengingatkan kita pada satu hal yakni: tanah Manggarai memang ibu yang luar biasa. Rahimnya menghidupkan segala yang ditanam dan dirawat. Rahim ibu Manggarai potensial dan bukan marginal; sayangnya potensial namun (dibuat) mati.
Bukankah kita hanya perlu menghidupkannya kembali; maka roda kehidupan kita akan terus berjalan tanpa harus keluar? Saya jadi teringat lagu Koes Plus yang direaransemen dengan sangat cantik oleh Musikimia: “Orang bilang tanah kita tanah surga; tongkat kayu dan batu jadi tanaman. .”
Saya berhenti untuk waktu yang cukup lama dan memperhatikan aktivitasnya. Dari cara ia merawat tanamannya, sepertinya ia menaruh cinta dan perasaan memiliki yang tinggi terhadap tanaman-tanaman tersebut. Ia menabur cinta, jauh sebelum menabur benih tanaman. Barangkali untuk menghasilkan sesuatu yang baik, pertama-tama kita memang harus menabur rasa cinta dan menumbuhkan perasaan memiliki yang kokoh.
Dalam diamnya, ia bekerja dengan giat. Ia tidak sibuk dengan hal lain, selain menyibukkan diri dengan aktivitas kerja itu sendiri. No talk, action only. Pada momen ini, kita pelan-pelan menyadari eksistensi manusia tak sekadar ditentukan oleh keberpikirannya, namun lebih jauh oleh kebertindakannya.
Hampir semua orang bisa berpikir, banyak yang orang bisa berpikir cerdas dan kritis, namun tidak semua orang bisa bertindak; minimal tentang apa yang dipikirkannya. Kita terlampau sering sibuk berpikir hingga lupa cara memulai.
Ender Tin, wanita tua yang mengalami gangguan jiwa menampilkan manusia dalam dimensi homo faber sejati. Ia dalam usia tua dan dalam keadaan gangguan jiwa tidak kehilangan jiwa pekerjanya.
Saya mengklaim diri sebagai orang yang sehat secara jasmani dan rohani namun kerap kali gagal menjadi sehat dalam artian yang lebih luas dan lebih mendalam. Saya, di usia semuda sekarang dalam banyak situasi kerap kali memilih tuk bermalas-malasan, membuang-buang waktu secara percuma; padahal ada banyak hal produktif yang seharusnya bisa saya buat. Saya cenderung konsumtif namun kurang produktif, cenderung pula terjebak dalam dimensi: no action, talk only.
Saya lebih banyak menonjolkan diri sebagai homo ludens yang lebih suka bermain-main dan mempermainkan banyak hal, termasuk dalam aktivitas kerja itu sendiri. Terkadang betapa tidak bergunanya saya.
Saya kemudian menghidupkan kembali motor saya lalu pulang dengan begitu banyak kicauan di kepala saya. Diam-diam, jauh di dasar hati, secara tulus saya mau bilang: terima kasih, Ender Tin!

*Tulisan ini telah dimuat di Ngkiong edisi 8 Juni 2020.
**Foto diambil dari halaman FB F. Rahardi, dengan seizin pemotret tentunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...

Dureng

* Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari. Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam". Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores). Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng. Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu. Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain aka...

Garis Waktu

Waktu terus bergulir. Tak terasa putra kami Cino kini berusia 19 bulan. Kami bersyukur karena pada usia sekarang, ada begitu banyak perkembangan dan hal-hal baik yang sudah bisa ia lakukan. Semoga seiring waktu ia terus bertumbuh dan berkembang lebih baik. Berbicara mengenai tumbuh kembang anak, menjadi orang tua membuat saya memiliki suatu ketakutan baru. Saya selalu takut ketika anak kami tidak kunjung mencapai suatu tahap perkembangan tertentu. Pada malam menjelang tidur saya selalu merenungkan banyak hal. Terkait tumbuh kembang anak, akan ada banyak pertanyaan yang berputar di kepala: apakah anak kami sudah berkembang sesuai dengan perkembangan anak-anak seusianya? Apakah ia sudah bisa melakukan hal-hal yang seyogyanya harus bisa dilakukan sesuai tingkatan usianya? Kenapa anak kami tidak kunjung bisa berjalan padahal anak seusianya sudah bisa berjalan?, dan lain sebagainya. Selalu ada kecemasan luar biasa di dalam diri, manakala pada usia tertentu masih ada hal yang belum bi...