Langsung ke konten utama

Postingan

Love Yourself

Pagi ini saya mendapatkan sebuah video pendek. Video di atas saya dapatkan pada story WA seorang teman. Sebut saja namanya Bunga. Video ini terkesan sangat sederhana, tapi sebetulnya sangat penting. Minimal bagi si Bunga yang share di story WA dan bagi diri saya sendiri. Dalam video berdurasi 15 detik tersebut: seorang bocah meminta kita yang menyaksikan video tersebut untuk menyebutkan tiga nama yang paling kita cintai dalam waktu lima detik. Saya menghentikan video lalu dengan cepat menyebutkan beberapa nama. Bukan hanya tiga nama seperti yang ia minta, tetapi enam atau tujuh nama. Setelah lima detik berlalu ia menebak bahwa: saya atau siapa pun yang mengikuti instruksi pada video tersebut pasti tidak menyebut nama diri sendiri. Saya tersentak karena seperti tebakan si bocah botak dalam video: pada tiga nama awal yang saya sebutkan, saya tidak menyertakan nama saya sendiri. Saya pun tidak menyebutkan nama saya sendri pada urutan ke empat sampai ke urutan yang terakhir. Saya tid...

Nama Orang Manggarai

Beberapa hari terakhir ramai diskusi tentang penamaan orang Manggarai. Diskusi ini dipicu oleh tulisan Salimulloh Tegar Sanubarianto di Mojok.co edisi 17 Februari 2021 tentang nama orang Manggarai yang dianggapnya visioner dan melampaui zaman. Beberapa pihak melihatnya sebagai jokes biasa, sementara beberapa pihak lain memandangnya sebagai bentuk perundungan terhadap kesakralan nilai kultural budaya Manggarai. Percakapan panjang lebar yang dimaksud, salah satunya dapat dilihat pada halaman Facebook Felix Nesi . Pro dan kontra ini mengingatkan saya pada anggapan beberapa orang NTT terkait nama orang Manggarai yang terkesan sembarangan alias suka-suka. Orang Manggarai tidak mengenal sistem marga atau fam, seperti halnya penamaan orang di pulau Timor maupun orang Batak. Salah satu kesan yang kerap saya jumpai ketika berkenalan dengan orang di luar Manggarai (meski kebanyakan dibawa dalam nada bercanda) ialah anggapan tentang nama orang Manggarai yang dianggap sembarangan alias suka-su...

Swallow; Sandal Nyaman Sejuta Umat

Swallow merupakan salah satu merek sandal yang merakyat. Ia dipakai dan dicintai oleh banyak kalangan, terutama sebagian besar golongan masyarakat yang oleh standar sosial dan standar ekonomi dianggap sebagai golongan kelas menengah ke bawah. Ia merupakan sandal legend yang menembus batas-batas sosial, gender, agama, suku, maupun generasi. Kita mungkin berbeda soal pandangan politik, soal selera makanan, soal musik kesukaan, soal klub kesukaan, soal cara memandang masalah, soal kriteria memilih pasangan ; namun kita sepertinya sepakat: Swallow memang terasa nyaman di kaki. Perasaan nyaman di kaki itulah yang membuat Swallow dicintai banyak golongan. Swallow biasanya dipakai dalam banyak aktivitas, semisal: pigi sembahyang rosario, pigi pasar, pigi masjid, pigi kebun, atau pun pigi ke rumahnya teman. Oh ia ngomong-ngomong, untuk kegiatan sembahyang rosario dan sembahyang di masjid sebaiknya pakai Swallow; kalau Anda tetap ngotot pake merek yang terbilang mahal dan dianggap gaul,...

Motang Rua

Setiap kisah sejarah sebaiknya ditulis dan diwariskan; atau ia akan hidup dalam banyak warna; atau ia sampai pada sebuah kemungkinan terburuk lainnya: ia pelan-pelan memudar lalu menghilang bersama waktu! Manusia, sebagai makhluk yang menyejarah selalu punya banyak cara untuk menjaga ingatannya. Patung merupakan satu dari sekian banyak cara yang dipakai manusia untuk menjaga cerita dan ingatan tentang sesuatu atau tentang seseorang tetap hidup di tengah masyarakat. Patung tokoh-tokoh kenamaan dibangun, selain sebagai bentuk penghormatan, ia menjadi semacam wujud yang mempertautkan suatu peristiwa di masa lalu dan masa sekarang. Melalui patung, ada rekaman cerita, kisah, peristiwa, dan semangat masa lampau yang coba dihadirkan kembali ke masa sekarang. Ia menjadi sebuah ornamen yang mewakili kisah dan perjalanan hidup seorang tokoh; sekaligus membawa api semangat dan visi tokoh yang disimbolkannya. Di jantung kota Ruteng, tepatnya di sisi utara badan lapangan Motang Rua berdiri sebua...

Toe Manga Isung; Sebuah Basa-Basi Sosiolinguistik

Pengklasifikasian hadir dalam banyak ruang lingkup hidup masyarakat. Ia diciptakan untuk mempermudah proses identifikasi sekaligus sebagai sebuah penanda. Ada banyak instrumen yang dipakai untuk menciptakan sistem klasifikasi seperti bentuk benda, sifat, karateristik, warna, jumlah, volume, dan lain sebagainya. Tidak terkecuali pada tubuh manusia. Berdasarkan bentuk hidungnya, manusia dibagi menjadi dua jenis: manusia berhidung mancung dan manusia berhidung pesek. Batasan mengenai mancung atau peseknya hidung seorang manusia masih bersifat abu-abu dan subjektif karena mancung didefinisikan dalam besaran yang tidak baku. Kadang apa yang dianggap mancung oleh suatu kelompok masyarakat, bisa jadi tidak termasuk dalam kategori hidung mancung oleh kelompok masyarakat lainnya. Begitu pun sebaliknya. Barangkali terdengar remeh, namun saya kira dalam masyarakat Manggarai, pembahasan mengenai bentuk dan penamaan hidung menjadi suatu isu serius yang perlu diangkat. Alasannya jelas, persepsi t...

Terima Kasih, Tuhan!

Hari mulai gelap. Mentari baru saja beristirahat di peraduannya. Saya baru saja keluar dari salah satu minimarket untuk membeli lampu. Saya tidak bisa langsung pulang dan harus berteduh untuk beberapa saat. Maklum gerimis sedang turun. Beberapa bulan terakhir, hujan mengguyur kota Ruteng. Di Ruteng, hujan menjadi semacam salah satu penanda alam bahwa sebentar lagi akan natal. Di musim-musim sekarang, hanya orang yang jago sekali yang bisa toka usang ; karena memang lagi diap musim. Penoka yang skill pas-pas tentu akan kewalahan. Di antara rintik-rintik gerimis, sesekali angin berhembus. Angin yang bertiup perlahan seperti menambah kelam suasana. Hawa dingin menerobos sela-sela jaket lalu mendekap raga. Rasanya dingin sekali. Maunya su sampe rumah, biar bisa cikop sambil dengar lagu. Saya mengamati orang-orang di sekitar. Ada beberapa ojek yang berjibaku di bawah hujan. Mereka tidak malas dan setia menunggu penumpang; tentunya biar asap di dapur mereka dapat tetap mengepul. Saya...

Di Indonesia Banyak Orang Baik

Dalam kitab Kejadian ditegaskan: TUHAN menciptakan segala sesuatu baik adanya. Pada wajah kita orang-orang Indonesia, saya menemukan naas KS itu terpenuhi. Ada banyak dimensi dan warna ke-baik-an dalam rupa-rupa kita orang Indonesia. Di tempat-tempat umum banyak orang baik. Kita bisa menemukannya dengan mudah. Di rumah sakit, di kantor polisi, di pengadilan, di jalan, puskesmas, kantoran, pasar; di mana-mana ada banyak orang baik. Di suatu siang, di loket rumah sakit misalnya. Ada pria bertato yang memberikan kursinya kepada seorang ibu hamil. Hmm, baik sekali orang ini. Tampangnya yang terlihat sangar dan badannya yang bertato ternyata tidak serta merta menjadikannya seperti apa yang diprasangka oleh kebanyakan masyarakat. Saya bersyukur bisa menjadi saksimata pemandangan langka ini. Masih di tempat yang sama. Ada seorang pegawai rumah sakit yang rela melepaskan tugas pokok dan fungsinya sebagai pegawai lalu sibuk membereskan urusan administrasi dengan memotong jalur antrean demi m...