Langsung ke konten utama

Terima Kasih, Tuhan!

Hari mulai gelap. Mentari baru saja beristirahat di peraduannya. Saya baru saja keluar dari salah satu minimarket untuk membeli lampu. Saya tidak bisa langsung pulang dan harus berteduh untuk beberapa saat. Maklum gerimis sedang turun. Beberapa bulan terakhir, hujan mengguyur kota Ruteng.
Di Ruteng, hujan menjadi semacam salah satu penanda alam bahwa sebentar lagi akan natal. Di musim-musim sekarang, hanya orang yang jago sekali yang bisa toka usang; karena memang lagi diap musim. Penoka yang skill pas-pas tentu akan kewalahan.
Di antara rintik-rintik gerimis, sesekali angin berhembus. Angin yang bertiup perlahan seperti menambah kelam suasana. Hawa dingin menerobos sela-sela jaket lalu mendekap raga. Rasanya dingin sekali. Maunya su sampe rumah, biar bisa cikop sambil dengar lagu.
Saya mengamati orang-orang di sekitar. Ada beberapa ojek yang berjibaku di bawah hujan. Mereka tidak malas dan setia menunggu penumpang; tentunya biar asap di dapur mereka dapat tetap mengepul. Saya kagum sekali dengan orang-orang ini. Mereka menolak pasrah dengan keadaan. Mereka pejuang rupiah sejati.
Di depan pintu minimarket, ada seorang anak berusia sekitar 12 tahun sedang menjajakan barang dagangannya. Dari mukanya, ia kelihatan sangat lelah. Setiap kali orang keluar dari minimarket, ia menawarkan bawang merah yang dijualnya. Sekantong harganya 5 lima ribu rupiah; saya jadi tahu karena beberapa orang beli. Semoga mereka diberi rejeki yang cukup.
Di samping saya ada sepasang suami istri berusia sekitar 50-an tahun. Mereka meletakkan barang belanjaannya di lantai. Mereka saling bergandengan; seperti sedang berbagi kehangatan dan cinta. So sweet sekali. Melihat momen itu, saya tiba-tiba jadi mau ajak satu kaka di samping saya yang lagi sibuk main HP untuk berpelukan, biar bisa berbagi kehangatan juga. Hahaha. . Jaga kena pak nana!
Setelah sekian lama menunggu, hujan pelan-pelan mulai reda. Pasangan tua menghidupkan Beat merah mereka lalu menerobos gerimis yang malu-malu. Itu kaka nona yang di samping saya juga kemudian pulang naik ojek tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yah iyalah, ai bom bae tau. Hehehe. .
Dengan susah payah, saya menghidupkan sepeda motor. Kalo kena hujan, motor kami si Nadus sulit sekali mau hidup. Gerimis yang masih malu-malu membuat saya agak kesulitan melihat jalan.
Kaca helm harus saya naikkan karena usianya sudah lama. Kalo jalan malam dan paksa turun kaca, nanti tidak bisa liat jalan. Atau paling kurang jalan jadi terlihar blur. Diap kaca depan sudah sabuk, maklum usianya sudah lama. Terima kasih helmku!
Saya memacu sepeda motor dengan kecepatan sedang. Kalo lagi licin, harus hati-hati. Jangan paksa balap, nanti bisa jatuh. Jatuh pas hujan-hujan di tengah gelap itu tidak keren. Kasian, selain motor jadi tambah rusak, tingkat ketampanan saya bisa berkurang. Xixixixi. .^_^
Kopi malam ini rasanya nikmat sekali. Saya bersyukur menjadi satu dari sekian banyak manusia yang di tengah guyuran hujan masih bisa menikmati kopi dengan santai sambil menikmati musik-musik yang saya sukai.
Tuhan mengirim banyak hal baik dalam hidup saya. Biar pun sering mendadak pusing karena kredit masih amat sangat banyak, setidaknya masih bisa menikmati hal-hal kecil yang bisa buat mood baik, yang tidak semua orang bisa nikmati.
Tuhan sering sleding dan buat saya sakit kepala, tapi saya bersyukur karena kehidupan saya dalam banyak konteks terbilang lebih baik dari ratusan juta orang yang lain di luar sana.
Di luar sana, masih ada begitu banyak orang yang untuk makan saja sangat sulit. Apalagi di tengah pandemi seperti sekarang. Banyak usaha yang gulung tikar, banyak rumah tangga yang mau tidak mau harus mengencangkan ikat pinggangnya.
Ada banyak rahmat Tuhan yang luar biasa dalam hidup. Persoalannya, saya (kita) kerap lupa caranya bersyukur. Saya terlalu fokus ke hal-hal yang belum saya capai, sampai-sampai lupa kalo sudah ada banyak hal yang Tuhan sudah kirim ke saya. Saya terlampau sering lupa bahwa di luar sana ada banyak orang yang berharap bisa menikmati kehidupan seperti yang saat ini saya rasakan.
Banyak anugerah yang Tuhan beri, yang saking seringnya kita terima sampai-sampai kita lupa kalau itu adalah anugerah.Saya sering lupa kalau jiwa dan raga yang sehat adalah anugerah, makanan dan minuman yang tetap terpenuhi setiap hari serta perasaan hati yang aman dan damai juga anugerah yang tidak semua orang dapat.
Bisa tetap tertawa bahagia dan hidup bersama keluarga, sahabat, dan teman-teman yang mencintai saya; yang menjadikan saya merasa ada dan berarti juga anugerah yang luar biasa.
Banyak orang di luar sana yang harus terbaring lemah karena sakit dan penyakit yang dideritanya. Banyak juga orang-orang yang kelaparan dan hidup dalam ketakutan seperti halnya orang-orang di wilayah perang.
Banyak orang di luar sana yang hidup dalam pelarian dan kesepian karena tinggal jauh dari orang-orang yang dicintainya atau karena ditinggalkan oleh orang-orang yang mencintainya. Tidak semua orang bisa tertawa bebas bersama orang-orang yang mencintainya.
Wah, kalau renung baik-baik, banyak sekali hal luar biasa yang sudah saya capai dan terima. Banyak sekali anugerah yang Tuhan sudah beri.
Beberapa hal yang saya kejar memang belum tercapai, bahkan ada yang menguap begitu saja ke udara. Meski begitu, hal-hal yang saya terima dan capaian-capaian yang sudah dihasilkan seperti menampar pipi sambil omong: harus sering-sering bersyukur e Felixianus! Mengeluh boleh, asal jangan terus-terus!

Ruteng, 12 Desember 2021

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHASA MANGGARAI, DIMENSI KOSMOLOGIS DAN REDEFINISI DEFINISI BAHASA KBBI

(Sebuah Catatan Lepas Pebelajar Bahasa Indonesia) Felixianus Usdialan Lagur* PROLOG Demi TUHAN, saya juga tidak tahu apa yang saya tulis. Saya cuma berharap kiranya, pemilihan judul yang terbilang cirang dan legit semacam ini akan dapat dipahami setelah teman-teman selesai membaca tulisan ini. Sebetulnya saya sangat ingin membahasakan judulnya dalam bahasa yang sesederhana mungkin, tetapi saya tidak menemukan padanan kata yang cukup cocok untuk mewakili isi tulisan. Jadi mau tidak mau hajar kat tah. . . HAKIKAT BAHASA Bahasa, baik lisan, tulis maupun bahasa isyarat merupakan alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa dikategorikan sebagai kata benda dan memiliki 2 definisi yakni: 1. Sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yg baik; sopan santun (KBBI offline versi 1.5.1). Beberapa definisi bahasa oleh pak...

Dureng

* Lebih dari seminggu terakhir, hujan deras disertai angin kencang tiada henti siang malam melanda wilayah kami. BMKG telah memprediksikan, cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga bulan Februari. Hujan terus menerus selama beberapa hari tanpa jeda disebut dureng. Dureng merupakan kosa kata bahasa Manggarai yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, dureng yang berkategori sebagai kata benda diartikan sebagai "musim di Flores dengan turun hujan setiap hari siang dan malam". Mungkin orang-orang di luar sana merasa heran dan kurang percaya dengan cuaca hujan tiada henti siang dan malam selama lebih dari seminggu. Namun, begitulah kehidupan kami di Manggarai (saya kurang tahu di wilayah lain di Flores). Memasuki bulan Januari dan Februari berarti kami memasuki musim dureng. Dureng merengut banyak hal. Ia membuat banyak aktivitas terganggu. Beberapa pekerja kesulitan beraktivitas; petani, ojek, tukang bangunan, kurir, dan beberapa pekerja lapangan lain aka...

PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA??

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah pengalaman sederhana. Ceritanya berawal ketika di suatu siang saya mengendarakan sepeda motor ke kampus, seorang anak di kompleks saya bernyanyi dengan semangat dan penuh penghayatan. Saya pun tak sengaja menangkap sedikit penggalan lirik yang dinyanyikannya, kurang lebih seperti ini: “Pramuka, pramuka raja rimba. . Marinir, marinir raja laut. . Kopauss, kopasus raja di udara. . PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” Tentu mayoritas orang sangat mengenal lagu ini; dan bisa dibilang lagu ini merupakan salah satu lagu anak yang hampir-hampir tak lekang oleh zaman. Kita yang sewaktu kecil mengikuti kegiatan pramuka tentu akrab dengan lagu ini, kita pasti dapat menyanyikan tiap baris dan bait liriknya dengan baik; kalaupun tidak terlibat dalam kegiatan pramuka, saya yakin paling tidak kita pernah mendengarnya. Yang membuat saya merasa tertarik ialah   penggalan lirik pada bagian terakhir yang berbunyi “PAK POLISI, SETAN JALAN RAYA. .” ...